85 Millimeters

85 Millimeters

  • WpView
    Membaca 92
  • WpVote
    Vote 21
  • WpPart
    Bab 11
WpMetadataReadLengkap Rab, Des 30, 2020
Gia sengaja membuat dirinya tertangkap sebagai satu dari rangkaian rencana yang dia buat dengan selama dua tahun. Dia ingin mengakhiri apa yang sudah dibuat oleh ayahnya. Untuk itu, dia juga harus mengakhiri semua yang dia punya. ---------- "I wish I can see you again in another life," ujarnya pelan dan pilu. "If there are other lifes, I will ask for you in every one of them." ---------- Hai, Kelip Biru di sini. Cerita ini sebenarnya adalah cerpen yang panjang, sekitar lima ribu kata. Kelip tulis sebagai side story novel beberapa tahun yang lalu. Namun, novelnya belum juga selesai dan cerpen ini jadi salah satu cerpen yang Kelip suka. Happy reading~ Yours truly, Kelip Biru
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#891
scifi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Alisa's Story
  • Future Scenery (Sebuah Antologi Cerpen)
  • GRIZLEN {On Going}
  • MY PETERPAN ALEN
  • Glitch
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • No Longer Mate
  • ★BABY ZION★

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan