EHS: My Bestie Classmates

EHS: My Bestie Classmates

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 2, 2021
Seorang gadis memandang sendu amplop kepindahan sekolahnya.Sedari tadi ia menahan bendungan air mata yang siap menetes kapan saja.Ia mendengus,impiannya untuk bersekolah di SMK favoritnya tidak akan pernah terjadi.Karena keputusan kedua orang tuanya ia dipindahkan ke SMA yang satu yayasan dengan SMPnya dulu. Gadis itu mengusap matanya yang berair,kemudian menghembuskan nafas kasar.Mencoba menerima alur cerita dari Tuhan.Baru saja kemarin ia mengikuti MOS.Baru saja kemarin ia mendapat teman baru.Merasakan lingkungan baru.Dan sekarang,ia harus kembali lagi ke tempat yang sama namun digedung yang berbeda. Gadis itu mendecih. Gue bukan lagi noleh kebelakang.Tapi gue balik kanan jalan lagi kebelakang. Batinnya. Mengandung kata kata kasar yang tidak cocok untuk anak sekolah dasar R14+ ______ Ditulis : 31 Desember 2020
All Rights Reserved
#8
kayna
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I Hope You (DISCONTINUED)
  • Last Hope On Sunday
  • ʟᴏᴠᴇ ɪɴ ꜱɪʟᴇɴᴄᴇ
  • REVANO [ SELESAI ]
  • Married With Ketua OSIS [COMPLETED]
  • Lazy Boy
  • AYKA
  • Kelas A [End]
  • From Diary of Magenta (Complete)
  • Kaka Kelas Dingin (END)

Sebelumnya inzie tak pernah menyangka akan mendatangi rumah yang sudah selama 6 tahun ini ia tinggalkan. Rumah yang penuh dengan kenangan pahit. Rumah dimana batinnya terus disiksa. Seharusnya inzie tahu, bahwa ketika ia menginjakkan kakinya kembali disini. Ia sudah tak akan sebebas dulu lagi. "Kak, kata mama aku punya seorang kakak yang akan datang. Dan itu adalah kakak. Kakak memiliki mata hijau, persis seperti yang mama ceritakan. Jadi, kak namaku Arnessa. Kalau kakak siapa? Kata mama aku harus bertanya sendiri." Saat Arnessa menyebutkan nama "mama" berulang kali. Itu membuat pandangan inzie semakin dingin. Ia menyentak kasar tangan arnessa yang masih betah melingkari pergelangan tangannya. "Dengar ya, sampai kapanpun aku tidak mempunyai adik. Ingat itu baik-baik." Perkataan penuh penekanan yang dilontarkan oleh inzie membuat arnessa terhenyak. Ternyata kakaknya tak menyukai keberadaannya. Copyright © by inestyanifa

More details
WpActionLinkContent Guidelines