𝙇𝙚𝙨𝙩𝙮 𝙆𝙚𝙟𝙤𝙧𝙖, dilema antara menuruti kata hati atau kata orangtua.Maka ia memilih orangtuanya.Ia sadar,orangtua adalah segalanya didunia ini.Petuah2 nya tak ubah membuat dia menjadi lebih baik.
ketika Ayah bilang 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯,maka dengan ketegasan hatinya ia akan turuti.
heh, sudah bukan jamannya lagi diatur orang tua,bagi Lesty doa orangtua adalah senjata paling mujarab
kehilangan sosok yg dicintai,walaupun kita tau cintanya tak seperti yg kamu beri,lukanya tak bisa disepelekan.Mencoba menapaki masadepan.Meski bayang2 kelam mengukir kata 𝘵𝘳𝘢𝘶𝘮𝘢 sama sekali tak mematahkan semangat Lesty melangkah,hanya saja ia lebih berhati hati kali ini.Ia percaya Tuhan selalu punya cara untuk menyembuhkan lukanya
***
𝙍𝙞𝙯𝙠𝙮 𝘽𝙞𝙡𝙡𝙖𝙧,dijuluki 𝘚𝘢𝘥 𝘉𝘰𝘺,karakter pria manja,friendly,dan fashionable sekali.Baru saja kehilangan sahabat,sekaligus kekasih impiannya.Baginya, merelakan seseorang yang dicintai agar dia bahagia dgn orang yg dicintai nya adalah level tertinggi dari "𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪" yg sesungguhnya.
Dia sempat merasa tak pantas,rapuh,dan kehilangan arah.Selalu menutupi lukanya dengan gaya nya yg selengean
merasa sepi bukan tentang teman saja, tapi hati yg rapuh itu perlu diperbaiki.
percaya pada doa,bahwa Tuhan akan memberikan yg terbaik untuknya
Bukan berusaha saling menyembuhkan,lebih tepatnya saling berbagi cerita,menepikan rasa sepi,bertukar pikiran,saling perhatian.Rasa nyaman itu lebih berbahaya dari "𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚".Cinta datang karena terbiasa
Cerita ini ada di paijo juga.
---
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih.
Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya.
Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya.
Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang.
Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.