Anak Bungsu

Anak Bungsu

  • WpView
    Reads 375
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 22, 2022
Kalian pikir jadi anak bungsu enak? Punya kakak cowok enak? Mungkin sebagian dari kalian pengen punya kakak dan jadi anak bungsu, tapi percayalah realita tak semanis ekspektasi. Jadi kalau kalian mau tau gimana kehidupan anak bungsu, mari baca cerita tentang gue sebagai anak bungus. Makasih buat kalian yang udah mau baca cerita ini, semoga suka ya. Jangan lupa vote dan comen nya, love you buat yang udah vote. Ceritanya mungkin masih banyak kurangnya ya, mohon dimaklumi author nya baru heheh. Dahlah kebanyakan bacot nantinya. *Peringatan mengandung kata kasar, kata kurang sopan, bahasa campur,*
All Rights Reserved
#636
sayang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • luka si bungsu | END.
  • KEPINCUT BRONDONG
  • Perfect Boy [END]
  • Cinta Beda Agama || Antara Masjid Dan Gereja
  • REZZA
  • ABANG #MillionMeanings [COMPLETE]
  • When I happy? (TAMAT)
  • Lika Liku si bungsuu
  • Love?(Nomin)(END)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines