KEKASIH DAN LAINNYA (TRILOGI)

KEKASIH DAN LAINNYA (TRILOGI)

  • WpView
    OKUNANLAR 34
  • WpVote
    Oylar 0
  • WpPart
    Bölümler 3
WpMetadataReadYetişkinTamamlanmış Hikaye Pzt, Oca 4, 2021
"Jika kau mencintaiku, lepaskan dia. Buang dia. Biarkan dia mati." Aku jelas tak tega melakukannya. Aku harus mencari cara lain melepaskan kekasihku yang sendu itu. Terlalu banyak kenanganku bersamanya, aku pun sudah terlalu banyak berjanji padanya. Bahkan janji-janjiku belum tuntas kutepati. Tapi aku pun nyaman bersama kekasih baruku yang muncul dari buku bersampul hitam. Aku masih bimbang. Kupegang buku bersampul hitam dengan penuh rasa percaya diri, dan kuyakinkan wanitaku yang waspada ini. "Baiklah, akan kubuang dia dari posisinya sebagai kekasihku. Tapi masalah ia terluka, biarkan ia yang menanggungnya. Lagi pula aku tak pernah mencintainya," kukatakan hal itu dengan mantap. . . . . . . Sebenarnya trilogi ini ditulis karena tugas kuliah untuk membuat antologi cerpen. Saya ambil 3 judul saja untuk rangkaian trilogi cerpen kekasih. Ketiga judul yang saya unggah ini pernah saya unggah sebelumnya beberapa tahun silam, juga ada di blog pribadi saya. Jadi, buat kawan-kawan yang membaca, semoga berkenan memberikan saran maupun kritiknya, terima kasih ❤
Creative Commons (CC) Alıntı
En büyük hikaye anlatıcılığı topluluğuna katılınKişiselleştirilmiş hikaye önerileri alın, favorilerinizi kütüphanenize kaydedin ve topluluğunuzu büyütmek için yorum yapın ve oy verin.
Illustration

Ayrıca sevebilecekleriniz

  • You're Here, But Not For Me
  • (One Shot) You & I
  • CERITA PENDEK
  • Kumpulan Cerpen
  • BERITAHU MEREKA!!!
  • Short Story (On Going)
  • DEAF TO BLIND
  • The Story About Us
  • HOLD ON
  • Random Story

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Daha fazla bilgi
WpActionLinkİçerik Rehberi