Arjuna | Hwang Hyunjin

Arjuna | Hwang Hyunjin

  • WpView
    Reads 419
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 8, 2022
Potongan Cerita : "Saka!" teriak Ecan yang hanya di anggap gonggong liar seekor anjing oleh Saka. "Woy, Saka. Monyet!!" "Apaa, sih. Anjing. Santai, bego." "Astagfirullah, Saka. Mulut kamu berdosa sekali." Ecan dramatis banget sembari menutup mulutnya. "Gue kesini mau ngasih oleh-oleh." Ecan lantas melenggang tenang ke dalam kos Saka. "Ada Raina juga. Kebetulan, gue ada oleh-oleh dari Bandung." "Gue nggak pernah tau kalo seorang Elriko Cendana bisa baik juga." Raina kadang mulutnya bener. "Yee, gue juga pengen masuk surga kali." jawab Ecan enteng. "Btw, semalem Lia lo antar dengan selamat sehat sentosa, kan?" Saka hanya mengangguk. "Terus? Lo nginep sana? Soalnya pas dia telfon gue, kayaknya teler banget. Gue takut kenapa-napa." Ecan berkata setelah menyimpan oleh-oleh ke lemari penyimpan. "Enggak, gue telfon Arjuna." Saka menjawab tenang. Mengingat semalam hanya Arjuna yang Lia cari membuat Saka pada akhirnya menghubungi cowok itu. "Bego!! Kok Arjuna!!" "Ya, santai, Babi!! Nggak usah nempeleng juga." *** Next? Silakan menjelajah.
All Rights Reserved
#1
fanfictionlokal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • PRIMADONAT |Mark lee|
  • Na & Liu
  • COLDEST | NA JAEMIN ✔
  • Ramadhan With Barudak
  • SLOWLY
  • Sadewa (END)
  • Na Jaemin : Crazy Rich Jaemin [Completed]
  • -KAKA KELAS- |SungRen

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines