About Us: Our Story

About Us: Our Story

  • WpView
    LETTURE 3,373
  • WpVote
    Voti 32
  • WpPart
    Parti 11
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione sab, set 16, 2023
Kisah klasik tentang seorang cewek yang gagal move on yang selalu dibayang-bayang oleh doinya. Inilah yang dirasakan oleh Nadea Humaira, yang harus dilema antara harus move on ke Dito, yang merupakan senior sekaligus kakak Angkatnya yang selalu ada di sisinya atau masih tetap menunggu Alfian membalas perasaannya? This is my first fanfict story, so don't forget to vote and comment, everyone Update: bila senggang aja ya
Tutti i diritti riservati
#703
doyoung
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • without epilog
  • Always Lin [Lai Guanlin]
  • My STEPBROTHER X Na Jaemin
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • Jejak Waktu [Complete]
  • Crazy Student and Bad Teacher
  • I'm Not Perfect ||《NA JAEMIN》
  • Love Letters [END]
  • Aku, Kamu dan Perbedaan [COMPLETE]

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti