The Truth Untold: Winter

The Truth Untold: Winter

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 5, 2021
--- Sky Light Bar, Bali --- "lepasin atau lo gak bakal bisa gunain tangan lo untuk selama-lamanya!!", Wennie dengan tegas kepada laki-laki yang sedang memeluk pinggangnya. "Cantik, berambut panjang, mempunyai mata indah, anggun tetapi sedikit kasar, saya suka nona", bisik pria berkaki jenjang tersebut pada Wennie. --- Dalam sekali gerakan, tubuh pria tersebut sudah tergeletak dilantai dengan banyak darah yang mengalir pada dada pria itu dan seketika suasana di bar tersebut menjadi hening, ya hal yang mudah untuk Wennie merubah suasana menjadi 180 derajat berbeda --- "Lo ikut gue, atau selamanya disini!" Wennie berkata kepada wanita penghibur yang ada di Bar tersebut. "Anaya mau ikut Wennie aja" kata wanita penghibur tersebut. "Roger 9214" kata Wennie sambil memegang benda kecil yang dipasang ditelinganya. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Hay, This is my first Work on Wattpad. Enjoy ya kalian membacanya :D. BTW jangan tegang-tegang amat :D, gue cuman mau kalian bareng sama gue menyelam ke dalam Imajinasi gue yang gak imajinasi banget dan let's build story along with me. I'm Misterious but Also Funny :D ___W.e.L.c.O.m.E___ Winter is Coming for you --------------------------------
All Rights Reserved
#739
rich
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • SANDI & FANYA
  • ALTERNATE UNIVERSE
  • Sweet Combat
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • Angel
  • My (boy) Friend | Bbyu Vol.1
  • Afterhours🔞

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines