Di Tepi Singularitas

Di Tepi Singularitas

  • WpView
    Reads 510
  • WpVote
    Votes 163
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 18, 2021
Mantan sprinter junior tercepat Indonesia, Rei 'kehilangan' kakinya pasca kecelakaan MRT yang terjadi di hari ulang tahunnya sendiri. Di tengah kondisi frustasi, ia mengetahui telah mengalami Post-Traumatic-Amnesia dan melupakan sejumlah hal yang terjadi sebelum kecelakaan itu. Rei mendapati jika dirinya ternyata terlibat dalam sejumlah fenomena kosmis yang berujung bencana fatal di sejumlah negara, dan memorinya yang hilang menyimpan informasi vital mengenai fenomena tersebut. Ia memutuskan untuk mengumpulkan kembali seluruh kepingan memorinya yang hilang demi mencegah bencana lain terjadi berpotensi menimbulkan lebih banyak korban jiwa. Namun, tak pernah ia menduga, semakin jauh dirinya menyelami memori yang hilang, semakin ia berpikir, 'LEBIH BAIK IA TAK PERNAH SELAMAT'.
All Rights Reserved
#422
life
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Blue String - END (Terbit)
  • Love's Serendipity
  • The Element Knights (Perjalanan Mengungkap Masa Lampau)
  • SKY NANI ( BENANG HITAM ) Skynani 18+
  • CAHYA UNTUK MENTARI
  • AYO MOVE ON!
  • 𝐒𝐄𝐈 𝐌𝐈𝐎 𝐒𝐒𝟏 [𝐒𝐊𝐘𝐍𝐀𝐍𝐈]
  • "Transfer Student wa Kodoku ja Nai"

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines