Namanya Ainara. Biasa dipanggil Nara. Ia senang sekali bisa kuliah Fakultas Bahasa dan Sastra Olympus. Di kelasnya, ada seorang mahasiswa, wajahnya kearab-araban. Kulitnya hitam manis, berambut tebal dan panjang sebahu. Ia memakai kacamata. Dadanya bidang dan tinggi sekitar 170 an sekilas kupandang. Itu hanya prediksi saja. Karena ketika Nara berada di dekatnya, tingginya hanya sedada pemuda itu.
Setiap hari ia rajin ke musala kampus. Sungguh, itu membuat Nara makin mengaguminya. Di kota besar zaman sekarang, mendapati lelaki yang rajin beribadah adalah hal yang sangat langka.
Nada semakin terpesona padanya karena ia juga kharismatik.
Nara sendiri adalah anak seorang ustadz di kampung, tapi penampilannya kalau di sini, jauh dari kenyataan ketika berada bersama kedua orang tuanya di kampung. Ia bahkan melepas jilbabnya, berpakaian kasual dengan kaus dan celana jins adalah kegemarannya. Kalau abahnya tahu, beliau pasti sangat marah. Selama ini gadis cantik berlesung pipi itu berhasil menutupi semuanya dari orangtuanya.
Tapi, yang ia herankan, ia justru menyukai si pemuda yang rajin ke musala.
Padahal, terkadang ia kesal dan keki dengan penampilan abahnya yang menurutnya udik karena senang memakai sarung dan peci saat ke masjid. Belum pula ceramahnya yang panjang lebar, membuatnya pusing tujuh keliling. Semua menjadi dilema tersendiri baginya.
Tanpa disengaja, Nara sering ikut kajian di musala kampus dan tergoda mengikuti kegiatan musala walau penampilannya masih begitu-begitu saja. Namun, ia senang, karena teman-teman menerimanya dengan baik. Entah kenapa, memakai pakaian lebar dalam pandangannya terkesan kampungan dan enggak modis. Ditambah lagi akan terlihat seperti ibu-ibu.
⚠️WARNING. THIS BOOK CONSIDERED FOR 19+. PLEASE BE WISE!
NOTE: SEBAGIAN PART YANG MENGANDUNG UNSUR DEWASA DI UNPUBLISH SEMENTARA
_____
Blurb :
Gabriella Aphrodite Ciero, Orang-orang terdekatnya sering memanggilnya Gabbie. Selain suka memasak dan kucing, gadis itu juga suka memperhatikan sahabat Kakaknya, Ares Lucian Mateo. Gabbie tidak pernah tidak terpesona melihat ketampanan dan kharisma pria itu. Sayangnya, Ares tidak begitu memperhatikannya dan hanya menganggap Gabbie sebagai adik dari sahabatnya.
Namun, satu malam merubah segalanya...