Merah Matahari

Merah Matahari

  • WpView
    Membaca 10,303
  • WpVote
    Vote 624
  • WpPart
    Bab 44
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Jun 2, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
Ya, aku akan siap melepaskan kapan saja karena aku tak bisa mengatur siapa jodohmu. Yang aku bisa hanya meminta bahwa itu adalah aku. Tapi kalau bukan, aku akan bisa apa? Entah berapa kali aku mengucapkan itu, berusaha meyakinkan orang-orang bahwa itu benar dan itu yang kurasakan. Atau selama ini aku hanya berusaha meyakinkan diriku sendiri? ----------- Lanjutan dari novel Langit Senja. Tapi bisa dibaca terpisah. Ya walaupun sebenernya bakalan lebih nyambung dan kenal sama tokoh-tokohnya kalau udah baca Langit Senja. Hehehe.. 😁 Selama yang nulis masih lanjut sekulah spesialis ini, chapter baru terbit setiap ada kesempatan nulis, yak. Be surprised. 😁
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#329
tunanetra
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Senja Yang Tak Kembali
  • I Promise You But Not
  • Jodoh Pemberian Ayah
  • Gengsi (flodel)
  • Gus bucin itu milik deyna!! ||end
  • My Destiny
  • psychologycal
  • I always believe you
  • {END}PESAN TERAKHIR {BossNoeul}
  • Ratusan Hari Mencari Hati

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan