TENTANG RISA

TENTANG RISA

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 16, 2021
Disaat gadis seusianya sibuk menikmati masa SMA yang merupakan masa-masa paling indah dalam hidup, seorang Risa justru harus berkutat dengan yang namanya kekurangan dalam segi finansial. Risa tak menyesal terlahir seperti ini, hanya saja sebagian orang malah menganggap orang miskin sebagai sebuah sampah. Disaat gadis seusianya sibuk berpacaran, Risa justru harus meneguk getirnya hidup sebagai seseorang yang dijadikan objek perundungan oleh teman sekelasnya. Salahkah seseorang jika terlahir dari keluarga miskin? Apakah mereka yang miskin pantas untuk dijadikan objek perundungan? Setidaknya itulah pertanyaan yang sering terbesit di benak Risa tiap kali merasa bahwa hidup ini tidak adil dengannya. Sampai akhirnya Tuhan mengirimkan sosok Bayu ke dalam hidupnya. Bayu adalah orang yang membebaskannya dari perundungan yang dilakukan oleh teman sekelas sekaligus orang yang memberi warna baru di dalam hidup seorang Risa.
All Rights Reserved
#56
bayu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • [1] Stepb: The Guilty One ✔
  • Our Times (Completed)
  • A Hundred Days Closer [On Going]
  • Juan [REVISI]
  • Back For Me (Completed)
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • Sejenak Luka
  • Waktu?
  • Petrichor
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines