Di atas kertas

Di atas kertas

  • WpView
    Reads 18,305
  • WpVote
    Votes 1,597
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 11, 2022
"Dua tahun. Hanya dua tahun dan setelah itu saya akan menceraikan kamu. Kamu bisa kembali ke kehidupanmu yang lama dan saya..." Ibra mengangkat bahunya acuh, "Seperti yang kamu lihat, kehidupan saya nggak akan berubah sekalipun kita menikah." Mia mengangguk kaku. Pikirannya menerawang, hatinya juga mulai bertanya-tanya 'apakah keputusannya ini benar?' tapi rasanya semua sudah terlambat. Seharusnya dua tahun cukup untuk membuat laki-laki itu... "Oh ya, satu lagi!" seru Ibra tiba-tiba, sontak Mia menatap wajah tampan laki-laki itu. Tatapannya yang serius selalu membuat Mia tertarik tapi buru-buru dia enyahkan pikiran gila itu. "Selama kita menikah, pastikan kamu menjaga hatimu baik-baik. Jangan jatuh cinta sama saya. Ini adalah peringatan untuk kamu, Mia." ujar Ibra tegas. Matanya menatap mata Mia lekat, lalu sedetik kemudian Ibra menghembuskan nafasnya pelan. "Ya, I know you must think I'm overcons confident. But believe me... akan lebih baik kalau kamu menjalani pernikahan ini tanpa cinta." Mia tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Ya. Kamu benar. Memang sudah seharusnya aku nggak mencintai kamu, seharusnya aku bisa menjaga hatiku sampai akhir..." Mia melarikan pandangannya ke luar jendela, melihat rintik-rintik hujan yang mulai jatuh membasahi tanah. Sepertinya semesta juga ikut merasakan patah hatinya. Tapi sayangnya, semua sudah terlambat. Aku nggak bisa mengatur hatiku, kepada siapa ia harus jatuh.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Kacamata [END]
  • Mr. & Mrs Albrecht
  • Dear Mia
  • MARRIED WITH MY FRIEND
  • Anak Kembar sang Presdir [END]
  • Pregnant with Rebel Prince (SELESAI)
  • I Love My Little Sister
  • Softer than Summer Night
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • Don't call it love!

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines