Maria seorang arsitek berusia 32 tahun masih lajang sampai saat ini,, sebenarnya Maria wanita yang cantik tapi agak eksentrik dalam tampilannya,, ia mengenakan kacamata besar walaupun ia tak bermata minus, rambut panjang yang seringnya di Cepol berantakan dan tak suka berdandan, memakai baju ukuran XXL yang paling sering dipakai adalah Hoodie dengan celana joger. Tapi tak bisa menutupi kulit putih mulus dan mata bulatnya yang menawan
Karena blm mendapatkan jodoh alias kekasih walaupun ia seorang arsitek yang cukup handal bagi atasannya.. akhirnya teman-teman memberi saran untuk berwisata rohani, Maria memutuskan untuk umroh dan berlibur.
Saat berlibur disuatu tempat terpencil daerah timur tengah tak sengaja dia menolong seorang pria dari tikaman yang yaris merengut nyawanya.
Apa yang akan terjadi dengan Maria selanjutnya.
Cerita ini pure fiksi romance dari ide Mimin yang tiba-tiba muncul..
Masih berupa sinopsis ya akan dilanjut klo salah satu cerita Mimin beres
Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ?
.....
Ceklek
Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable.
"Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran.
"Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh"
What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ?
Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image)
"Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya.
.....
"Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama."
"No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi.
"Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama"
"Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun.
"Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi.
"Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi.
Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya.
"Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.