KIRISAME
  • WpView
    LETTURE 12,709
  • WpVote
    Voti 1,513
  • WpPart
    Parti 8
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione mar, nov 11, 2025
WpInfo
Fanfiction
Naruto
WARNING : SASUHINA SEMI CANON Menurutmu definisi bahagia itu seperti apa? Harta, tahta, wanita? Banyak anak dan pasangan yang setia? Memiliki segala hal yang kau inginkan di dunia ini? Mungkin itu yang diinginkan banyak orang. Tapi berbeda bagi Hyuuga Hinata, mantan heiress klan Hyuuga. Wanita itu hanya ingin tidur dengan nyenyak. Cukup itu yang membuatnya bahagia. Ditolak cinta pertamanya, diremehkan klannya, dipaksa menikah dengan Uchiha Sasuke hanya untuk percobaan jutsu baru bagi kepentingan desa, sampai kehilangan suami dan anaknya yang berasal dari warga sipil. Semua mimpi buruk yang terus mengikutinya membuat Hinata sadar jika ia hanya ingin tidur nyenyak. Atau jika diijinkan, ia ingin bertemu dengan sang ibu, Neji, suami dan putra kecilnya yang sudah pergi ke surga. Ketika Hinata benar-benar lelah dengan hidupnya, Sasuke berdiri memayungi Hinata di bawah tangisan langit di area pemakaman sore itu. "Apa yang membuatmu bahagia, Uchiha-san?" "Cukup melihatmu tersenyum, aku sudah sangat bahagia."
Tutti i diritti riservati
#2
semicanon
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • What Happens?
  • 5 Years After Divorce
  • -DAMN HEART-
  • MY BASTARD HUSBAND [18+] Sasuhina Fanfiction
  • Past Or Future, I'm Yours
  • Revenge Of Love
  • Hurted
  • You're not Alone

Menjelang kematiannya, Neji berpesan pada Naruto sang sahabat agar menjaga adik kesayangannya. Hinata. Tentu Naruto tak bisa menolak, tapi semakin lama Hinata yang culun pun berubah menjadi angsa putih nan cantik. Rasa ingin memiliki pun timbul, tapi janjinya pada Neji menghalangi. . . . Pada saat pernikahan Naruto dan Hinata di langsungkan, ia tengah dalam pengembaraannya. Penebusan dosa, itulah yang menjadi alasan yang selalu ia katakan pada teman-teman dan penduduk desa. Padahal ia hanya muak menyaksikan kebahagiaan orang lain terus menerus, tanpa ia sekalipun pernah merasakannya. Rinnegannya di paksa bekerja terus menerus untuk berteleport, hingga di malam entah yang keberapa puluh, matanya tak lagi sanggup. Darah yang tak sedikit keluar dari matanya, kepalanya sakit bagai di pukul godam, ia hilang kesadaran. Saat terbangun, ia bangun di dunia yang terlihat sama. Namun pada dasarnya sangat-sangat berbeda. . . .

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti