Fall
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 1, 2025
Menurut Nadin, sesuatu yang ia inginkan wajib untuk didapatkan entah bagaimanapun caranya. Namun, ia lupa bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini telah disuratkan oleh takdir. Ternyata segala usaha yang dilakukan dapat berakhir sia-sia, jika tidak sesuai takdir. "Aku semengganggu itu ya bagi kamu?" tanya Nadin sambil menunduk. "Apalagi sekarang?" jawab si lawan bicara terlihat malas. "Kalau perasaanku mengganggu kamu, harusnya kamu bilang." Nadin meremas jari-jari tangannya terlihat gugup. "Kalau aku merasa terganggu, aku udah bilang dari awal. Kenapa sih suka banget tenggelam dalam asumsi sendiri?" jawab lawan bicara Nadin sedikit kesal. Nadin terdiam. "Aku udah berusaha ga ilfeel sama kamu, tapi sikap kamu yang kayak gini yang bikin aku ilfeel." Sosok itu berujar datar, namun siapapun yang mendengarnya akan tahu bahwa ia sedang kesal. Nadin mengangkat kepalanya, menatap sosok yang ia kejar-kejar setahun belakangan. "Silakan ilfeel saja kalau gitu, " jawab Nadin lalu meninggalkan sosok itu begitu saja.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Boo&Ay [TAMAT]
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • REYRA🍁 [TERBIT]
  • TITIK LUKA
  • Hopeless
  • Pilu Berpijar
  • Semu [Completed]
  • Favorite Wound

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines