Dream In

Dream In

  • WpView
    Reads 211
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 15, 2021
Dia sama seperti aku, dia juga manusia. Latte dan Americano diuji dengan dinginnya air hujan. Air mata yang mengering, hanya senyuman pahit, dibandingkan Amricano dia, jelas aku lebih manis. Aku hanya ingin menunggu dengan hal yang ku sukai. Kalau bukan dia yang tepat datang lebih dulu. Atau yang lainnya telah menggandengku kembali, ke tujuan akhirnya. Ya, kupikir hanya khayalan dan aku menertawakannya. Tapi tidak, dia nyata, sama sepertiku. Dia manusia, liat senyumnya. Masih sama, wanita mana yang tidak jatuh padanya? Ada? Kami memang di-tepat-kan, tapi hanya waktu yang akan menjawab.
All Rights Reserved
#616
dream
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kuas,Cat dan Cinta
  • It Was Always You - END
  • STALKER
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • Ar.
  • LEOLA
  • Hujan Kesepuluh [COMPLETED]
  • ADAKAH ALASAN UNTUK CINTA??
  • Hilang.
  • Better Than Before

Aku bertemu degannya lagi. Ini sudah lama sekali, cukup lama untuk membuatku canggung untuk menyapanya. Sepuluh tahun yang lalu, aku gadis berkucir dua, dia anak yang berkaca mata. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah orang yang tidak memperhatikan wajahnya dengan teliti dan sekarang aku menyadari bahwa dia adalah pemuda yang tampan dengan mata yang menarik di balik kaca matanya itu. "Hallo !!" sapaku padanya. Dia menatapku dengan kening berkerut. Aku menjadi lebih canggung lagi karena dia tidak mengenaliku. Aku bukan gadis menarik, aku juga bukan gadis yang pandai mengawali pembicaraan ataupun mengakhirinya. Kalaupun dia mengenali aku, mungkin dia akan pura-pura lupa. "Hallo !" balasnya kemudian dengan senyum yang canggung. "Apa kau masih mengingatku ?" tanyaku dengan tatapan menyelidik ke arahnya. Hujan sore ini menahan dia, aku dan beberapa orang lainnya di depan toko yang tidak kutemukan papan namanya. Aku pindah dari kota ini ke luar negeri sepuluh tahun yang lalu tapi sekarang aku kembali dan temanku tidak mengenaliku lagi. "Kau siapa ?" dia balik bertanya dengan nada yang canggung ke arahku. Sudah kuduga, dia lupa tentangku. Aku menatap sekeliling, aku pasti akan terlihat sangat lucu sekarang. "Aku bukan siapa-siapa, lupakan saja" jawabku dengan santai lalu kuakhiri dengan senyum kecil. Aku lebih suka cara ini, aku tidak akan memaksakan seorang yang tidak lagi mengingatku untuk mengenalimu. Aku lebih butuh seseorang yang akan mengatakan hallo bersamaan denganku karena itu berarti kami saling mengingat. Aku menatap ke langit lagi, hujannya masih belum berhenti tapi aku menjadi orang yang pertama meninggalkan tempat ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines