Dia sama seperti aku, dia juga manusia. Latte dan Americano diuji dengan dinginnya air hujan. Air mata yang mengering, hanya senyuman pahit, dibandingkan Amricano dia, jelas aku lebih manis.
Aku hanya ingin menunggu dengan hal yang ku sukai. Kalau bukan dia yang tepat datang lebih dulu. Atau yang lainnya telah menggandengku kembali, ke tujuan akhirnya.
Ya, kupikir hanya khayalan dan aku menertawakannya. Tapi tidak, dia nyata, sama sepertiku. Dia manusia, liat senyumnya. Masih sama, wanita mana yang tidak jatuh padanya? Ada?
Kami memang di-tepat-kan, tapi hanya waktu yang akan menjawab.
All Rights Reserved