The unseen but I love

The unseen but I love

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 24, 2021
"Aku tak tahu, dia yang tak terlihat saja bisa menarikku seakan aku berada di dekapannya. Bagaimana jika dia benar-benar nyata? Ah, seakan aku-lah orang yang paling bahagia di dunia ini." Aya yang baru saja melamun langsung tersadar atas apa yang baru saja ia katakan di dalam hatinya tersebut. Pembicaraan dan pemikiran apakah itu, sungguh Aya sangat membencinya. Tetapi itu tidak bisa di elakkan. Masalahnya seorang Kanaya Syadza itu sudah benar-benar jatuh cinta kepada sosok itu. "EITSSS, AYA TOLONG SADAR!" "AYA NGGAK BOLEH BUTA CINTA" "AYA NGGAK BOLEH LAKUKAN ITU" Aya mengatakan kata-kata itu sembari menepuk-nepuk pipinya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • SEMESTA YANG KU CARI
  • Dear... Nadin From *Anonymously*[Selesai√]
  • Qiyamah Senja-completed
  • Dia bukan gadisku (Sudah Terbit)
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah

More details
WpActionLinkContent Guidelines