The Day I Back Home

The Day I Back Home

  • WpView
    Reads 270
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 30, 2021
WpInfo
Non-Fiction
[Follow dulu agar mendapatkan pengalaman membaca yang lebih baik] "Waktunya tidur adik-adik. Siapa yang paling rapi di tempat tidurnya akan kakak beri peran Hero di cerita malam ini.." Aurora berteriak lembut sambil memposisikan dirinya duduk di tengah ruang kamar adik-adiknya. Sang adik bungsu di gendongan sedari tadi sudah mengusap wajah mengantuknya sementara Aurora menunggu kelima adiknya yang lain untuk mencari posisi nyaman di atas tempat tidur. Setelah dirasa siap, Aurora mengambil nafas panjang sebelum memulai cerita sebelum tidurnya. "Di suatu rumah yang indah, hiduplah tujuh bersaudara yang rukun dan bahagia.." . . . Menjadi kakak tertua dari enam orang adik laki-laki tak membuat Aurora kewalahan, justru adik-adiknya adalah sumber kekuatan dan kebahagiaannya. Namun suatu hari, saat ia pulang, ia menyadari bahwa rumahnya telah berubah. Kehidupan dan ceritanya pun berubah. . "Saat kau sudah membawanya pulang.. ceritakanlah padanya dongeng sebelum tidur, bukan tentang pahlawan yang melindungi bumi, tapi tentang perjuangan seorang kakak untuk menjemput adiknya..." "Tentang hari di mana akhirnya dia pulang.. "
All Rights Reserved
#933
hidup
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • Dalam Mercusuar [END]
  • 【𝑾𝒊𝒍𝒍 𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆?】
  • Jangan Pergi Kakak!! [END] ✔️
  • Blood Bound Chains || StrayKids Brother
  • Cakra's Last Embrace. | End |
  • TRAUMATIZED🪽(END)
  • The Devil's Love
  • GRIZLEN {On Going}

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines