BOUNDARY

BOUNDARY

  • WpView
    Reads 83
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 12, 2023
Pernahkah kamu berada di lingkungan yang menyiksa kesejahteraan mental, bahkan kadang melunturkan jati dirimu? Seperti, kumpul bersama teman-teman padahal tidak sedetik pun rasa nyaman melingkupi hatimu hanya karena takut diasingkan saat bekerja. Saat kencan, tiba-tiba dihadapkan dengan menu yang membuat alergimu kambuh, tapi kamu stay cool dan pura-pura menikmati menu yang ada karena takut merusak momen dan mengecewakan pasanganmu. Menyetujui agenda kumpul-kumpul dengan atasan hingga rela merusak susunan agenda yang sudah dirancang sedemikian rupa agar atasan senang sehingga kamu dilibatkan dalam proyek-proyek besarnya. Atau secara sederhana, you couldn't say NO just because you feel responsible for the happiness of those around you. Hesya Danurdara Wiguna akan menunjukkan kepadamu bagaimana ia menjalani hidup tanpa perlu tunduk pada hal-hal yang tidak dia suka. Bersama Abiyasa Galih Pradigta yang mengagungkan budaya ketimuran Nusantara, Dara akan membuktikan bahwa BOUNDARY yang sehat perlu dibangun demi menyejahterakan mental dan mempertahankan jati dirinya tanpa mengacuhkan intervensi siapapun.
All Rights Reserved
#309
dosen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • 𝔼𝕊𝕋𝔸𝔽𝔼𝕋 𝕋☠️𝕏𝕀ℂ [ Re-up. New version ]
  • X = Savior✔
  • Istri Bocil Milik Sang CEO
  • From Sorrow To Happiness || Mayor Teddy
  • [END] When the Stars are Tired
  • GHAZI ELZIO [TAMAT]
  • ⓂⒺⓃⒹⒶⓀⒾ ⓀⒶⓀⒾ ⓁⒶⓃⒼⒾⓉ
  • SILENT TEARS  (REVISI)

Aruna lahir di tengah keluarga yang penuh luka, di mana cinta terasa seperti kewajiban, dan rumah menjadi tempat paling sunyi untuk menangis. Dari ayah yang keras, diamnya ibu, bayang-bayang kakak sampai kehilangan yang tak sempat dimengerti... Aruna tumbuh dalam ketakutan, menyimpan trauma dalam diam, dan menyulam harapan lewat kata. Tapi hidup tak selamanya gelap. Dalam sunyi yang ia akrabi, perlahan tumbuh keberanian. Dari menulis puisi di kamar sempitnya, bertemu dengan seorang psikolog yang mendengar tanpa menghakimi, hingga akhirnya menemukan tempat baru untuk bernapas: tulisan. Ini bukan kisah tentang perempuan yang ingin diselamatkan, tapi tentang perempuan yang menyelamatkan dirinya sendiri. Karena luka tak harus hilang untuk bisa tumbuh. Kadang, luka justru menjadi akar dari kekuatan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines