Besok
  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 4, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Aku terus diam,tidak tahu juga seharusnya melakukan apa.Dibalik wajah tenangku,aku mulai memikirkan lagi.Hal-hal yang membuatku masih saja kurang cukup untuknya. Dirga dengan wajah frustasinya,menahan lenganku tanpa malu ditengah koridor penuh manusia ini.Aku diam menatapnya malas.Setelah melihat dengan jelas adegan romansa Dirga dengan seorang gadis entah siapa. "Aku bisa jelasin Sa,semuanya." "Aku percaya Ga,dan gaada yang perlu diperjelas." tutupku final.Melepas tangan kanannya dilenganku.Berlalu sambil memikirkan apa kurangku,lagi. Setiap orang yang tahu bahwa aku dan Dirga menjalin hubungan selalu mengatakan aku seperti tidak mencintainya.Seolah aku menjalani semua hal dengan Dirga hanya untuk bersenang-senang. Sebaliknya,setiap aku bersama Dirga hanya rasa bersalah yang memenuhi otak dan hatiku.Bersalah atas aku yang lalai memperhatikannya.Aku yang tidak mampu memberi apa yang Dirga mau.Atau sekedar ada disetiap agenda pentingnya. Aku mencintainya dengan porsiku.Dirga paham akan itu, tapi belakangan Dirga mulai menunjukan hal yang bertolak belakang.
All Rights Reserved
#384
tara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Petikan Lingga
  • Berjanji Untuk Sehati
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Can You Give Me One More Chanche
  • Suck It and See (Complete)
  • INKONSISTENSI RASA (TERBIT)
  • Renjana : Arutala Dirgantara [Completed]
  • Cinta Berbalut Puisi

Suara petikan gitar mengisi ruangan kecil itu, menggema lembut di antara dinding-dinding kosong. Lingga duduk bersila di lantai, memeluk gitar akustiknya seperti seorang sahabat lama yang selalu setia mendengar. Tangannya bergerak perlahan, memainkan melodi yang sederhana namun penuh makna. Mata Lingga terpejam, seakan mencari ketenangan di antara setiap nada yang ia mainkan. Hari itu, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Langit berwarna jingga keemasan, tanda bahwa senja sudah mulai memeluk hari. Lingga tahu bahwa waktu terus berjalan, namun ia merasa seolah detik-detik itu melambat saat ia tenggelam dalam musiknya. Di sudut ruangan, terletak sebuah foto kecil yang berdiri di atas meja kayu. Foto itu adalah potret dirinya bersama Nalendra-tertawa bersama di sebuah taman dengan cahaya matahari menerpa wajah mereka. Lingga melirik foto itu sejenak, senyumnya muncul tapi dengan berat, seakan ada sesuatu yang tertahan. Petikannya terhenti. Lingga menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, memandangi gitar di pangkuannya. "Len... gue nggak tahu kenapa gue selalu mainin lagu ini setiap kali gue mikirin lo," gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Hening. Hanya ada suara angin yang meniup lembut tirai jendela. Lingga kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, mencoba mengingat saat-saat ia dan Nalendra duduk bersama di tempat ini. Gitar yang kini di tangannya pernah dimainkan oleh Nalendra, bahkan melodi yang ia mainkan barusan adalah lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. "Mungkin lo bener, Len," bisiknya pelan. "Hidup ini nggak selalu soal yang sempurna, tapi soal belajar menerima." Lingga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines