Time Out

Time Out

  • WpView
    Reads 4,842
  • WpVote
    Votes 1,303
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 13, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Mendapatkan cokelat yang bisa membuat seseorang menyukainya? Cayla tidak percaya akan hal itu. Tidak akan. Tapi bodohnya, pikiran dan perasaaan nya tidak berjalan seiringan. Jadi seperti ini lah jadinya. Cokelat itu bukan dimakan oleh Pandu, laki-laki yang ditaksir nya sejak kecil. Malah dimakan oleh Biran! Seorang Biran! Murid yang terkenal nakal disekolahnya. Belum lagi dari gosip teman-temannya, laki-laki itu merupakan ketua gangster. Lebih sialnya lagi, cokelat itu benar-benar bekerja! Biran mendekatinya dan itu bukan hal yang bagus baginya. Ya Tuhan, Cayla jadi merasa menyesal. Dan kini tujuannya adalah mencari cara agar pengaruh cokelat itu hilang. Tapi, seiring berjalannya waktu, niat itu kian pupus. Dia ingin waktu berjalan dengan lambat. Selambat-lambatnya. Tapi, dia terlambat. Karena saat dia menyadari perasaannya, waktunya sudah berakhir, begitu juga kesempatannya. Time Out ©kvinnaire [ISTIRAHAT]
All Rights Reserved
#45
wattys21
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • The Cool My Boy Friend [TAMAT]
  • Take Me Back!
  • Finding Daddy (END)
  • No Drama (SELESAI)
  • Bad Girl Reputation
  • Elegi Rasa : Pergi
  • -Waktu yang Salah-
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines