Black Heart

Black Heart

  • WpView
    Reads 9,502
  • WpVote
    Votes 409
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 13, 2015
" apa itu mate? Apakah itu sesuatu yang penting?" tanyanya, menatapku tanpa emosi. Aku terbelalak. ' bagaimana mungkin dia tidak tau apa itu mate, sedangkan dia juga sejenis dengan kami?' ayah dan ibunya adalah werewolf jadi tidak mungkin dia jenis makhluk lain. Dan apa-apaan pandangannya itu, dia seakan-akan tidak menyadari bahwa aku adalah mate-nya. " mate adalah pasangan jiwamu, seseorang yang sudah ditentukan untuk bersamamu selamanya jauh sebelum kau dilahirkan." jelasku. Kuharap dengan penjelasan ini dia akan sadar, bahwa aku mate-nya. " oh . . ., is that so? Itu indah sekali. Pasangan takdir. Aku jadi iri pada orang yang memilikinya." ucapnya tersenyum. Sekali lagi aku terbelalak. 'WHAT THE HELL . . .?!'
All Rights Reserved
#23
pg-13
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • My Little Monster - Completed
  • The Midnight Bride [TAMAT]
  • Little Gelandangan and Her Daddy Werewolf
  • DESTINY FOR DARKLAND
  • Love you
  • In the Future Without You
  • DUNWICH
  • The NECROMANCER
  • I'm Alpha Damian [END]

Mata itu tiba-tiba terbuka dan menatapku. Langsung ke manik mataku. Aduh, copot deh ini jantung. Tali mana tali, buat ikat jantungku biar nggak jatuh. Hiks tolong.... "Kamu jangan pergi, temani aku disini," ucapnya pelan lalu memejamkan matanya lagi. "Hah? Mm... iya," gumamku sambil mengangguk pelan, meski ia tak melihatnya. "Kakak kenapa mabuk?" tanyaku memastikan apa ia bisa di ajak berbicara dengan normal. Lagi pula orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Ku pikir dia ada masalah, meski jahat sih jika mendengar curhatan orang yang sedang mabuk, sedangkan aslinya ketika sadar ia akan memusuhiku lagi. Ilsya hanya tersenyum dalam tidurnya. Lantas tak lama bibirnya tiba-tiba melengkung kebawah, terlihat cemberut. Aku nyaris tersedak liur menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya. "Aku nggak suka liat kamu dengan orang lain." Jawabnya dengan raut wajah yang masih sedih. WHAATT?!! Ng-nggak suka, aku dengan yang lain? Sialan Monster ini, meski dalam keadaan mabukpun dia masih bisa membuatku grogi. "Maksud kakak apa?" tanyaku penasaran. "Aku suka kamu, bodoh!" jawabnya lantang, terdengar jelas di telingaku. Jedaaaaaaar...... Siapa yang sangka jika cinta bisa hadir dari rasa benci, dari caci, dari maki. Hinggi bersemi dalam hati tanpa bisa dipungkiri. Cinta ya cinta, tak memandang status, tak mmandang harta, derajat, ras, agama, dan jenis kelamin. Jika cinta telah menancapkan panahnya, siapapun takkan mampu menampiknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines