LUKA
  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 2, 2021
"Tentang luka yang kembali terbuka" ¤¤¤ Kalau dulu ia merasa punya teman banyak walau pada akhirnya tidak ada satupun yang menetap, maka sekarang ia merasa kesepian padahal banyak sekali teman yang ia punya. Kalau dulu ia bisa mendapatkan apa yang ia mau dengan mudah, maka sekarang ia harus bersusah payah agar bisa mendapatkan apa yang ia mau. Dan dulu, saat Semesta nya hampir runtuh ia selalu punya rumah untuk berpulang. Maka sekarang, saat semesta nya benar-benar runtuh, apa ia masih punya rumah untuk berpulang? Saat ia sendiri yang menghancurkan rumah itu tanpa pernah ia sadari? Lantas, kemana lagi ia harus berpulang setelah semesta nya runtuh?
All Rights Reserved
#31
candypublisher
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Benalu [Terbit]
  • Perihal Waktu
  • HOME FOR WOUNDS
  • Teruntuk Luka [Completed]
  • Jika Rumah Bukan Tempat Pulang
  • Happy Is Bulshit
  • you again ✔
  • Nanti Juga Sampai
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Nathalea

"Bahkan ibunya sendiri membuang anak itu." Semesta pun menghiraukannya, seperti bayangan yang tak pernah di anggap ada, seperti benalu yang tidak pernah di inginkan kehadirannya. *** Nyatanya, ada hasil yang menghianati usaha dan tidak semua usaha akan di kabulkan dengan hasil yang baik. Ya, Teresa sadar hal baik tidak akan pernah ada dalam kisah hidupnya. Benalu akan tetap menjadi benalu, sang penganggu yang tak pernah di inginkan ada. Tangisan pilu selalu keluar dari mulutnya yang menyimpan banyak kisah luka, entah waktu kecil atau bahkan sampai sekarang. "Seharusnya anak seperti kamu tidak lahir dari rahim saya!" ucap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Teresa Audiyatama. Seseorang yang berusaha menghilangkan label 'benalu' dan 'anak pembawa sial' di dalam diri dengan berbagai cara. Sakitnya di permainkan, di jadikan alat balas dendam, mendapat penghianatan yang begitu menyakitkan, sampai harus kehilangan orang-orang yang di sayangi. Tapi, kenapa semesta masi tidak mau berbaik hati padanya? Rasa sakit itu semakin menyakitkan. Setiap hari lubang kelam di hati semakin dalam, menyisahkan kekelaman yang mengerikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines