Gomenasai (End)

Gomenasai (End)

  • WpView
    LECTURAS 21
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, oct 29, 2022
"Jangan menatapku seperti itu Gar...," ucapku pada lelaki yang tengah sibuk menatap ke arahku itu. Aku menghentikan sementara kegiatanku yang sibuk memilah buku-buku yang tidak terpakai untuk diloakkan di gudang kantor. Namun seseorang yang ku panggil dengan sebutan Gara itu seolah menulikan pendengarannya atau ia memang sama sekali tidak mendengarkan ucapanku. "Berhenti menatapku seperti itu...!!" ucapku lagi memberi penegasan di akhir ucapanku. "Emang kenapa sih mata-mata aku kok kamu yang sewot..," ujar Gara. "Ih, tapi akunya tuh risih kamu liatin kayak gitu..," sungutku kemudian. Dia malah terkekeh sebelum menanggapi keluhanku. "Risih apa malu? Jantung kamu berdebar-debar nggak aku tatap kek gitu?" tanyanya kemudian.
Todos los derechos reservados
#29
cerpenku
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • THE POWER OF MY EYES [BOYSTORY]
  • DANADYAKSA
  • JANGAN PANGGIL AKU LARAS
  • ARGLADIS
  • diam suka mantau
  • Males, ribet.
  • Dilon
  • ANIMAL'S?! (Complete!)
  • Love Setan(FINISH)

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido