KETIKA DO'A TAK LAGI KUPANJATKAN
Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam keadaan yang tak pernah ia duga, Malik kehilangan segalanya, rumahnya, sandaran hidupnya, dan terutama keyakinannya kepada eksistensi Kekuasaan Tuhan. Setiap malam ia menatap langit sambil bertanya, "Kalau Kau Maha Baik... kenapa mereka yang Kau ambil? kenapa Kau tidak menolongnya? kenapa Kau biarkan mereka wafat dalam keadaan seperti itu?" ucap Malik di dalam hatinya dengan irama kekecewaannya.
Malik berubah. Ia tak lagi berdoa, bahkan membenci bila melihat gambar ataupun tulisan Asma'ul-Husna yang berbunyi "Al-Mu'min (Maha Pemberi Keamanan)", "Al-Waliyy (Maha Melindungi)", "Al-Mujib (Maha Mengabulkan)". Ia merasa dikhianati oleh takdir. Sahabat-sahabatnya menjauh karena ia mudah marah, dan hidupnya penuh dengan kebencian kepada Tuhan.
Sampai suatu malam, ketika ia kembali ke makam kedua orang tuanya dalam keadaan mabuk kecewa, petir menyambar dekat tempatnya berdiri. Malik berbicara di dalam hatinya "Ya Allah, aku tau aku berdosa karena sudah berprasangka buruk terhadap-Mu, tapi entah mengapa hati ini penuh sekali dengan rasa dendam ingin membalas, penuh dengan rasa kecewa terhadap-Mu, aku tau ini semua sudah ditakdirkan oleh-Mu, tapi aku tidak ikhlas atas apa yang mereka perbuat kepada keluargaku, aku akan balas semuanya. Ya Allah, aku tidak peduli apa yang akan terjadi ke depannya, aku akan tetap membalaskan dendamku kepada mereka" ucap Malik dalam hatinya dengan nada penuh dendam.