We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
NONA RANDOM

NONA RANDOM

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 27, 2021
WpInfo
Non-Fiction
Kepada tuanku, tuan kopi, aku Sedari Kecil adalah nona kopi. Nona kopi yang berkelana di sekeliling kampungnya sendiri. Mencari peracik kopi di para tetua Setiap pagi hingga petang menyapa, Bersama teman-temannya tak perduli bila panas matahari menyengat menyetubuhi kulitnya menjadikannya Hitam dekil. Tuan kopi, Nona mu berjiwa bebas hingga teguran ayahnya selalu menjadi sia-sia. "Berhenti main-main di siang hari nak, Kamu perempuan sudah sepantasnya berlagak seorang perempuan" "Kulitmu Akan Jadi gosong, Seharusnya Kamu Di rumah merawat dirimu dan sesekali bantu ibumu" Ujarnya Dengan Lembut Dan Tegas. Tentu aku bukan nona Mu jika tidak membangkang, Apalah Arti Seorang perempuan berkulit putih jika yang di lakukannya hanyalah di rumah tanpa melakukan apapun, Apalah arti dunia ini bila Dunia hanya terjamah oleh manusia² yang serakah. Sesekali nona mu melakukan kebebasan dengan tangan kecilnya bersama teman-temannya membantu meracik kopi dan menikmati betapa indahnya para tetua Menumbuk kopi dengan alat yang sangat sederhana. Meski Lelah, Mereka manusia² tak kenal lelah, Bahkan pekerjaannya di selilingi senyum dan tawa para sesamanya. Biarkan Nona mu ini Menikmati Dahulu, Sebelum nonamu bukan lagi nona kopi.
All Rights Reserved
#533
teh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • SECANGKIR KOPI SEBELUM PULANG || END
  • Dinikahin ayah tiriku[21+]{Slow Update}
  • 𝙲e𝚛𝚙𝚎𝚗 {Ship Countyhumans}
  • PAS NGOPI
  • Pregnancy Birth Stories
  • SARAH STORY
  • Nona Teh dan Tuan Kopi [TERSEDIA DI TOKO BUKU]

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines