We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Malam Pertama Yang Tertunda.

Malam Pertama Yang Tertunda.

  • WpView
    Reads 2,382
  • WpVote
    Votes 61
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 9, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Mas!" Aku berteriak karena di kakiku mengalir darah. Mas Iza tertawa, lalu memberitahuku untuk segera mandi dengan air hangat yang sudah dia sediakan. "Dasar cabul, bisa-bisa nya dia melakukannya tanpa menunggu persetujuan ku." Namun, aku senang. Akhirnya, aku bisa memilikinya lahir batin. Dia juga. Memiliki ku secara utuh. Aku menatap cermin, membayangkan mata yang penuh setenang telaga. Sinar matanya seakan mengunciku dalam gelora asmara. Dia peka, aku memang menginginkannya.
All Rights Reserved
#889
kehilangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DI DUAKAN KEMUDIAN AKU DI DEWIKAN
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda
  • MY SOUL
  • Remember Me
  • BLOOD FLOWERS
  • BUKAN PILIHAN KU
  • Not A Perfect Husband �✔
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • KARAFERNELIA
  • GENRENYA SALAH! (Tamat)

Gibran: "Sayang.. mas minta maaf, kamu jangan diam saja seperti ini, silah kan tampar atau kamu pukul saja badan mas sayang". Suara mas Gibran terdengar serak sambil menahan tangis. Terlihat mukanya merasa sangat bersalah. Mendengar perkataan mas Gibran, aku yang tadinya diam seperti robot, tiba-tiba mulai bereaksi dengan emosi yang memuncak. Tanpa sadar tanganku melayang menampar pipi mas Gibran. Kemudian aku memukul dadanya beberapa kali. Beliau kaget tapi tidak berusaha membalas perlakuanku kepadanya. "Aku benar-benar tidak menyangka mas!, kamu tega, sangat tega!. Semua perlakuanmu, kasih sayangmu bahkan semua perhatianmu selama ini ternyata palsu!", teriakku sambil menangis pada mas Gibran. "Kamu benar-benar jahat!". "apa kesalahanku sampai kamu setega ini mas!". "Aku benci sama kamu!". Teriakku kencang sambil memukul-mukul dadaku sendiri. Mas Gibran hanya diam melihat luapan emosiku yang memuncak. Kemudian tangannya berusaha memelukku, tapi aku langsung menepis tangannya menghindar, kemudian menjauh ke pojok tempat tidur.

More details
WpActionLinkContent Guidelines