Caraphernelia

Caraphernelia

  • WpView
    Leituras 24
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Capítulos 3
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sáb, nov 27, 2021
Manusia hanya bisa berencana, namun untuk hasilnya hanya Tuhan yang bisa menentukan, dan pada akhirnya kita hanya bisa mempercayai takdir. Kita tidak akan tau akhir dari cerita hidup kita. Dengan siapa kita nantinya itu hanya sebuah misteri dikehidupan kita. Untukmu, apa kau tau jika hati ini telah memilihmu? Bahkan hati ini pun telah nyaman denganmu. Namun kau tau kan, aku tidak bisa berbuat apa-apa, akupun tidak boleh berharap lebih untuk mengharapkan dirimu. Karena semakin berharap hati ini semakin sakit. Lantas bagaimana aku sekarang? Aku akan mengikuti alur takdirnya, kemana takdir akan membawaku berlabuh. Aku akan selalu mencintaimu, menyukaimu dan menyayangimu. Namun, aku tidak mengharapkanmu menjadi milikku ataupun berharap kau membalas rasaku. Biarlah semuanya mengalir seperti air. Aku yakin ada hal indah yang telah dipersiapkan untukku dititik terbaik takdir hidupku nanti. Sampai bertemu di akhir kisah yang menyakitkan dan membahagiakan ini.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Forgiveness
  • 💔How If, I Love You Too💙✓
  • Memories in Moon
  • You (J & M)
  • We're destined to met, not to united.
  • Full Of Scratches
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Destiny ✓
  • A Second Chance #Brotherhood 3 (Complete)

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo