We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
01.00 AM

01.00 AM

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Dec 7, 2025
WpInfo
Fiction
Fantasy
"Lavanaeila, bangun. " Awan yang terang hilang dalam hitungan detik, gelap melanda sekitar. Hujan turun bersamaan dengan tangis penyesalan. Semuanya telah berakhir, malam ini semua berduka. Jalanan yang dulu sepi ini mendadak menjadi ramai tak terkendali seperti layaknya orang-orang sedang menatap pentas meriah di tengah badai. Lavanaeila telat pergi. "BANGUN LAVA !!! " Skala marah, ia meraung-raung disana sambil memeluk erat tubuh bersimbah darah itu. Gadis penjual bunga mawar putih itu pergi bersama dengan mawar yang sudah bercampur dengan darah. Perayaan ulang tahun Skala yang berantakan, dan ucapan permintaan maaf laki-laki itu, yang sudah ia rancang untuk Lavanaeila hilang di kepala. Semua nya telah pergi "Lava, tolong bangun, gue butuh lo, " Semuanya terluka, semua berduka.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PEPINDHAN: Wadana lan Soca
  • A Family of Villains
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • My Villainous Stepmom [END]
  • Just let me live, Duke!
  • The Unwritten Lady
  • Sin of The Villainess
  • The Duke's Red String
  • The Reborn Mama (END)
  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7

📌 BACA SEASON 1 TERLEBIH DAHULU [NITI WADAH: Sang Titisan Barong] PEPINDHAN: Wadana lan Soca "Satu rupa untuk dilihat, satu mata untuk merasa." [CERITA INI MURNI PEMIKIRAN SENDIRI. KALAU ADA KESAMAAN ALUR, KATA, LATAR, ATAU NAMA TOKOH ITU TIDAK DI SENGAJA]

More details
WpActionLinkContent Guidelines