Nous avons mis à jour nos Directives du Contenu.
Consulte les dernières directives pour continuer à partager des histoires en toute sécurité.
En savoir plus 
Elaine
  • WpView
    LECTURES 9
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadTerminé ven., janv. 29, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Kecemburuan itu kini tergambar begitu jelas di mataku. Aku melihatnya memeluk lelaki itu, lelaki yang baru saja datang dan mengancamku. Ia memeluk Elaine di malam itu, dan menyeka air matanya menggantikanku. Elaine memang begitu terpuruk kala itu. Ia gagal mencapai impiannya untuk memasuki universitas impian kami. Ia berjalan menelusuri lorong kost-kostannya sambil menitikkan air mata. Pemuda itu bahkan mengantarnya sampai depan pintu kamarnya. Hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Kecemburuanku benar-benar memuncak. Tanpa lagi mementingkan keadaan dan penjelasan dari Mentariku, aku meraih sebuah belati yang selalu terselip di dinding dapur kamar Elaine . Aku mencabutnya dengan penuh amarah dan melayangkan belati itu ke arah lelaki itu tanpa pikir panjang. Namun Elaine dengan kebodohan yang tertanam di dalam dirinya, ia menyelaku dan membuat belati menghujam tepat di jantungnya. Akulah yang membunuhnya....
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • Story Of You
  • Boyfriend
  • I'm ~ Twins Girl [END]
  • Queen And Her Devil Boy {Completed)
  • Rasya Vs Rasyid [END]
  • Menikah Dengan Mantan? (END)
  • KARAFERNELIA

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu