Story cover for MENDAX by LuciferLeah
MENDAX
  • WpView
    Reads 1,149
  • WpVote
    Votes 266
  • WpPart
    Parts 11
  • WpView
    Reads 1,149
  • WpVote
    Votes 266
  • WpPart
    Parts 11
Complete, First published Jan 30, 2021
[ Productive 30 Days ; Passion Write. ]

Siapa tahu, mitos-mitos yang selama ini bertebaran, ternyata benar adanya dan mampu mencelakai korbannya secara perlahan.

Untuk itu, Felice harus berpikir keras untuk menyingkirkan takdir yang bukan miliknya.


[  f a n t a s i / m i s t e r i  ]
End : 10.06.21
© LuciferLeah , 2 0 2 1
All Rights Reserved
Sign up to add MENDAX to your library and receive updates
or
#6yunani
Content Guidelines
You may also like
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] by AYA_MNK
28 parts Ongoing
🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2022 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT
You may also like
Slide 1 of 10
FAIR UNFAIR cover
Mitologi Yunani (Lengkap) cover
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] cover
Mythology Universe (1) : HIRAETH cover
Aliansi Rahasia [TAMAT] cover
The Comedian's Last Laugh cover
Labyrinth Unidirectional Love [END] cover
Evanescent cover
My Phoenix Girlfriend cover
The Heart of a Beast (COMPLETED) cover

FAIR UNFAIR

27 parts Complete

*Pemenang Grassmedia Fiction Challenge 2020* Kata Praska, Maura itu bodoh dan selalu melakukan segala hal berdasarkan prinsip tapi tanpa pertimbangan. Jadi, saat Maura kehilangan pekerjaan dan membawa pulang beban hutang yang banyak sekali kepada kantor, menurut Praska hal itu terjadi mutlak karena kebodohan Maura sendiri. Praska ingin Maura berubah jadi perempuan yang melihat segala hal dengan perhitungan jangka panjang. Lalu bagaimana jika dalam perjalanan membebaskan diri kungkungan masalah, Maura justru diharuskan bekerja untuk pengidap narkolepsi, Christopher Park, seorang pemuda asal Korea yang butuh referensi budaya Indonesia demi karir dan gelar pendidikannya? Maura harus menemani Chris mendalami rupa-rupa Indonesia sesuai daftar kegiatan yang ada di bukunya, Maura juga harus mengumpulkan banyak uang, dan terakhir, Maura ingin menyelamatkan masa depan percintaannya dengan Praska. Tapi apakah benar, Maura hanya perlu menahan rasa kecewa sebentar saja? Apakah masalahnya bisa diselesaikan dengan mudahnya? Apakah semua yang dijalani Maura sudah bisa dikatakan adil? Atau malah sama sekali tidak adil? Warm Regards, Akhiriana Widi