The Sunset

The Sunset

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 2, 2021
Sesuatu yang indah itu akan selalu datang belakangan. Sebagai manusia kita hanya perlu menjalaninya sesuai takdir. "Maaf Bunda!" ujar Alea dengan penuh terisak. Sementara Bunda terus menerus mengatakan tidak, berharap yang ia dengar saat itu adalah sebuah kebohongan. -- "Kak!" Yang merasa dipanggil pun berdehem. "Kenapa sunset itu lebih indah daripada sunrise?" tanya Alea sembari menunjuk ke arah tenggelamnya matahari. "Kenapa coba?" tanyanya kembali lantas membuahkan kekesalan pada diri Alea. "Ih kok malah balik nanya sih?" Alea kesal. "Sebab sesuatu yang indah akan selalu datang belakangan. Untuk menjadi seindah sunset dan sehangat sunset ia perlu melewati beberapa proses yang harus membutuhkan kesabaran. Beda dengan sunrise yang muncul diawal lalu memberikan keterikan setelahnya" jelas pria bersweater cream itu. "Berarti Kakak itu sunset untuk Alea ya?" ujar wanita itu. "Kenapa tuh?" "Karena, kakak membawa sebuah keindahan serta kehangatan yang enggak pernah Alea pikirkan."
All Rights Reserved
#71
teeneger
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Capricorn
  • SAMA RASA SAMA SAMA
  • Beautiful Disaster
  • [SELESAI] Jika Tidak Denganmu. Maka Tidak Dengan Orang Lain [Season 1 & 2]
  • BUNGAKU TELAH KERING [Belum revisi]
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • tentang sebuah rasa
  • ARGA [REVISI]
  • Hi Crush! (udah selesai)
  • Warna Langit (Blue Orangeade Sequel)
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines