The Sunset

The Sunset

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 2, 2021
Sesuatu yang indah itu akan selalu datang belakangan. Sebagai manusia kita hanya perlu menjalaninya sesuai takdir. "Maaf Bunda!" ujar Alea dengan penuh terisak. Sementara Bunda terus menerus mengatakan tidak, berharap yang ia dengar saat itu adalah sebuah kebohongan. -- "Kak!" Yang merasa dipanggil pun berdehem. "Kenapa sunset itu lebih indah daripada sunrise?" tanya Alea sembari menunjuk ke arah tenggelamnya matahari. "Kenapa coba?" tanyanya kembali lantas membuahkan kekesalan pada diri Alea. "Ih kok malah balik nanya sih?" Alea kesal. "Sebab sesuatu yang indah akan selalu datang belakangan. Untuk menjadi seindah sunset dan sehangat sunset ia perlu melewati beberapa proses yang harus membutuhkan kesabaran. Beda dengan sunrise yang muncul diawal lalu memberikan keterikan setelahnya" jelas pria bersweater cream itu. "Berarti Kakak itu sunset untuk Alea ya?" ujar wanita itu. "Kenapa tuh?" "Karena, kakak membawa sebuah keindahan serta kehangatan yang enggak pernah Alea pikirkan."
All Rights Reserved
#311
dijodohkan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALANA : A Stepmother's Journey to Love [ TELAH TERBIT ]
  • RASSYA [ON GOING]
  • [SELESAI] Jika Tidak Denganmu. Maka Tidak Dengan Orang Lain [Season 1 & 2]
  • ARGA [REVISI]
  • STUCK IN THE MOMENT WITH YOU...
  • MAS !
  • ALYA
  • SAMA RASA SAMA SAMA
  • BUNGAKU TELAH KERING [Belum revisi]
  • tentang sebuah rasa

Alana Refasya adalah perempuan yang nyaris tak tersentuh, elegan, mandiri, dan dihormati di dunia mode. Di usia 32 tahun, namanya bukan sekadar label, melainkan simbol eksklusivitas yang bertengger di puncak industri. Setiap gaun rancangannya bukan hanya sekadar pakaian, melainkan seni yang membingkai keanggunan. Sosialita, selebritas, bahkan bangsawan berlomba mengenakan karyanya. Wajahnya menghiasi layar-layar raksasa di kota besar, terpampang dalam cahaya gemerlap yang menciptakan ilusi kesempurnaan. Namun, kesempurnaan adalah fatamorgana yang mudah runtuh saat berhadapan dengan kenyataan. Pernikahan dengan Erland Addison membawanya ke dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya, sebuah rumah yang megah, tetapi kehilangan makna sebagai tempat berpulang. Ada sesuatu yang salah di rumah ini. Mereka yang tinggal di dalamnya terlalu terbiasa untuk merasa tidak dicintai. Terlalu lama mengandalkan satu sama lain tanpa pernah benar-benar percaya bahwa mereka tetap membutuhkan sosok ibu atau pasangan hidup. Dan saat itu juga, kenyataan menghantam Alana dengan keras. Keluarga ini telah porak-poranda dalam genggaman perempuan yang seharusnya menjadi tempat pulang mereka. Hancur begitu saja. Mengikis keyakinan bahwa mereka pantas dan layak dicintai. Luka-luka lama mengakar begitu dalam, kepercayaan telah lenyap, dan di dalam rumah ini, rumah yang seharusnya menjadi tempat kembali-tidak ada ruang bagi siapa pun yang mencoba masuk. Anak-anak itu menatapnya dengan sorot mata waspada, seakan menunggu saat ia melakukan kesalahan. Mereka tidak butuh ibu baru. Mereka tak ingin percaya lagi. Dan Alana pun sadar... perjalanannya baru saja dimulai. Karena ia tahu, membangun rumah bukan sekadar memiliki dinding dan atap. Bahwa memenangkan hati tidak sesederhana merancang gaun yang sempurna. Dan di tempat ini, di antara hati yang telah lama kehilangan kepercayaan, ia mengerti satu hal, sekadar usaha tidak akan pernah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines