Diary Lea by TAN (Bahasa Indonesia)

Diary Lea by TAN (Bahasa Indonesia)

  • WpView
    Reads 145
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 4, 2025
Sebuah jurnal dari seorang 'LEA', dan cara pandangnya, serta pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya mengenai hidup manusia. Lea adalah wanita yang kritis dalam memandang hidup. Tujuannya adalah untuk menarik pelajaran sebanyak mungkin dari apa yang terjadi di sekelilingnya. Lea berkeinginan, paling tidak hidupnya ia manfaatkan untuk sesuatu yang berguna untuk dirinya di masa depan. Ya... dengan belajar mengenai kehidupan... Apakah kalian bisa membantunya? Written by TAN Terbit setiap : Senin
All Rights Reserved
#4
pointofview
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Fractured Cheerfulness (On Going)
  • Seharusnya Kita Tidak Menyerah
  • ANGAN BIRU
  • Cinta Berbalut Puisi
  • LINTASAN WAKTU
  • Burned Wound(Diterbitkan)
  • Mengenal Diri, Mencari Tujuan
  • DIARY DAYRA
  • Bergerak untuk Berubah
  • Dunia Alana

"Lo beneran bego, Fin. Gimana sih, gini aja lo ga ngerti-ngerti?" Satria menggelengkan kepala frustasi. Alfina cuma bisa cengengesan. "Jangan bosen ngajarin gue, ya." Di balik senyum yang tak pernah hilang, Alfina Adzra Wardana adalah anak yang terjebak di antara dua dunia. Dunia di mana dia terlihat ceria, ekstrovert, dan penuh semangat. Tapi ketika bel tanda pelajaran berbunyi, dia lebih memilih untuk menghindar daripada berhadapan dengan angka, rumus, atau teori-teori yang malah bikin pusing. Matematika? Ekonomi? Hanya kata-kata kosong yang dia coba terjemahkan dengan senyum yang terus dipaksakan. Satria, cowok yang dipaksa jadi tutor pribadi Alfina, udah sampai titik frustasi. "Lo bener-bener bego!" katanya, meskipun di balik itu, dia enggak bisa menahan rasa kagum pada dunia Alfina yang penuh warna dan seni. Karena ada satu hal yang Alfina tahu dengan pasti: dunia seni adalah tempat dia bisa bersinar. Setiap goresan kuas di kanvas adalah tempat dia bisa bebas, tanpa perlu penilaian orang lain. Tapi di rumah dan di sekolah, ada satu sosok yang terus dibandingkan dengan Alfina-adiknya Thalita, yang cerdas dan selalu jadi juara kelas. Alfina merasa dirinya selalu kalah. Di balik kebingungannya dan perasaan tak cukup, Alfina mencoba menemukan cara agar bisa berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi, apakah itu cukup? Dan di tengah semua itu, apakah Satria, yang frustrasi mengajar, bisa melihat potensi besar dalam diri Alfina yang selama ini dia abaikan? Apakah Alfina bisa melepaskan diri dari bayang-bayang adiknya? Apakah Satria bisa melihat lebih dari sekadar kegagalannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines