Dari Sebuah Monolog

Dari Sebuah Monolog

  • WpView
    Reads 71
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 13, 2021
Tentang monolog seorang perempuan yang menjadi awal perjalanannya mengarungi kehidupan. Dengan menganalogikan ia adalah seorang petualang tanpa tujuan, dan menjadikan orang-orang di sekitarnya sebagai teman seperjalanan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FIGURAN YANG BANGKIT
  • Neuf Werewolf
  • The Black Moon
  • Hilang
  • MATE  [END]
  • Patah Hati Membawaku Bertualang
  • Mengenal DIA...
  • Gumiho! Is My Mate?
  • My Precious Luna (END)
  • RUANG HAMPA (terbit)

Annhoelle Valois Alernandezar-anak yang selalu mencari perhatian, tetapi hanya mendapat pengabaian. Sejak kecil, ia berusaha menarik hati keluarganya, berharap bisa diakui, tetapi yang ia terima hanyalah keheningan dan ketidakpedulian. Perlahan, harapannya hancur, semangatnya memudar, hingga ia menyerah pada hidupnya yang tak pernah dianggap berarti. Namun, takdir berkata lain. Adit Rahadit, seorang pemuda dingin yang membaca kisah tragis Annhoelle, merasa geram dengan nasib yang dialami tokoh figuran itu. Jika ia berada di posisi Annhoelle, ia tidak akan pernah membuang waktu untuk mencari pengakuan dari orang-orang yang tak pernah peduli. Dan tanpa diduga, saat kesadarannya beralih ke dunia novel, ia mendapati dirinya terjebak dalam tubuh Annhoelle. Kini, dalam tubuh figuran yang selalu diabaikan, Adit mengambil kendali. Ia tidak akan menangis, tidak akan meminta perhatian-sebaliknya, ia akan mengabaikan mereka, sama seperti mereka pernah mengabaikan Annhoelle. Dengan bola mata kosong dan ekspresi dingin, ia membentuk jalannya sendiri di dunia ini, tanpa harapan, tanpa belas kasih, tanpa keinginan untuk kembali seperti dulu. Tetapi, seiring waktu, keputusan Adit membawa konsekuensi yang tak pernah ia perhitungkan. Saat figuran yang dulu lemah mulai menolak takdirnya, dunia mulai berubah. Namun, apakah benar pembalasan dengan pengabaian akan menjadi jawaban? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang akan menantangnya di perjalanan ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines