Dandelion

Dandelion

  • WpView
    Reads 285
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 29, 2021
-Bukankah setiap rasa hadir karena terbiasa?- "Ada tiga hal yang paling gue suka dalam hidup gue. Pertama gangguin Friza, kedua jahilin Friza dan ketiga godain Friza."- Alea Zaleandra Reygan "Ada tiga hal yang gue nggak suka dalam hidup gue. Pertama cewek alien, kedua Alea, ketiga Alinea."-Keenan Friza Xavalio. Alea, gadis manis yang terkenal dengan sifat barbarnya dan hobinya yang sangat suka menjahili Friza-tetangganya yang cueknya minta ampun. Setiap bertemu, keduanya seperti Tom and Jerry. Beradu mulut, mempermasalahkan hal kecil dan sebagainya. Tentu saja sang pembuat masalah adalah Alea. Meskipun kerap kali beradu mulut, akan tetapi keduanya begitu dekat. Tanpa sadar, dalam hati keduanya telah tumbuh sebuah rasa. Perasaan kehilangan saat salah satu diantara mereka tidak ada. Namun, tak ada yang menyadari hal itu. Hingga suatu hari, Friza berubah. Dia mulai kasar pada Alea dan bahkan menghindari Alea. Semenjak itu pula, masalah demi masalah mulai bermunculan dalam hidup Alea yang membuat dunianya hancur. Lalu apakah penyebab Friza berubah? Apakah suatu saat mereka bisa menyadari perasaannya masing-masing? Partner: @A.R. Catter Start: 1 Maret Finish:
All Rights Reserved
#52
dandelion
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • Segitiga [END]
  • ALBAR
  • Edelweiss or Dandelion. (On Going)
  • No Longer Mate
  • Karena Kamu Rumahnya
  • GALASKA [RE-UPLOUD]
  • SAMUDERA
  • Angel Baby

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines