Antonim Hangat

Antonim Hangat

  • WpView
    LECTURAS 65,318
  • WpVote
    Votos 7,758
  • WpPart
    Partes 9
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, sep 23, 2021
WpInfo
Ficción
Romance
"Apa lagi yang Lo mau dari gw hah?! Lo gak suka kan sama gw?! Lo risih,ke ganggu dan segala hal Jadi yaudah gw pergi,gw capek seneng kan Lo? Akhirnya gw nyerah sama keadaan"teriak Rinai dengan penuh emosi mengeluarkan segala hal yang dipendamnya sendiri selama ini. Saat hendak berbalik meninggalkan sosok lawan bicaranya tiba-tiba saja tangan Rinai ditarik, hingga menabrak sosok yang sedari tadi diam mendengarkan amarahnya. "Jangan pergi" DEG... "Jangan pergi,gw mohon cowok kaku ini butuh Lo maafin gw Rinai Rosa Purnama"
Todos los derechos reservados
#268
cowokdingin
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Blonde & The Cold Heart [TERBIT]
  • Sergio | Haechan
  • I'm Not Perfect ||《NA JAEMIN》
  • Be Yours
  • New Universe : Transmigration
  • Nara [SUDAH TERBIT]
  • MY M3SUMM Boyfriend (COMPLETE)
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido