Story cover for Love Yourself by zahra_sr
Love Yourself
  • WpView
    Reads 437
  • WpVote
    Votes 100
  • WpPart
    Parts 25
  • WpView
    Reads 437
  • WpVote
    Votes 100
  • WpPart
    Parts 25
Ongoing, First published Feb 05, 2021
Ketika sendu menyapamu tanpa sebuah tanya. Apakah kau baik-baik saja?
Akankah sendu yang terus berkuasa?
Mengambil alih tata surya, bahagia yang pernah kau rancang sebelumnya?
Ataukah dia yang kau puja kembali menyayat luka, yang masih membiru itu?

Harapan... kau hanya perlu berharap, sedikit bumbu semangat, dari orang terdekat.
Pilu yang membekas itu akan sirna, jika kau mau membaginya. 

Mungkin dunia bukan milikmu saja, tapi buatlah dunia mengenalmu dengan orang yang kuat. Bangkit dari keterpurukan itu penting. Tapi akan lebih baik tabah dan ikhlas diikut sertakan.

.
.
.
Apa kalian penyuka Quotes? Jika iya, maka mari berimajinasi dan mencurahkan isi hati dengan Quotes kami.

bukan cerita Fiksi atau Non Fiksi. hanya perpaduan Quotes yang membangkitkan dari frustasi. Zahra, Reni, Irma dan Rahma
All Rights Reserved
Sign up to add Love Yourself to your library and receive updates
or
#251reminder
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
It's Okay, Kamu Normal ! cover
Dia, Suamiku ✅ cover
Aku Saat Ini : Tidak Boleh Sempurna cover
Seharusnya Kita Tidak Menyerah cover
HANATHAR [END] cover
(Bukan) Pernikahan Impian cover
Malam Membiru. cover
Biru  Anuradha | END cover
Yang Pernah Patah cover
Love After Accident [On Going] cover

It's Okay, Kamu Normal !

23 parts Complete

Banyak orang datang dan pergi tanpa alasan, sekalinya ada hanya seperti bayangan. Memang dalam menjalani proses kehidupan terkadang terasa berat dan melelahkan. Jadi tetap semangat ya untuk menggapai kebahagian. Sering kali suara ini dibungkam, segala usaha tidak dihargai dan telinga merasakan sakit karena suara-suara yang cukup berisik. Lalu esokan harinya semua dibanding-bandingkan seolah apapun yang dijalani salah sehingga terpaksa wajah ini memakai topeng kepalsuan lalu bergerak seperti wayang. Apakah harus diam melihat keasingan antara jiwa dan raga ini ? Apakah salah jika menjadi diri sendiri ? "Tuhan, kapan kebahagian datang kepadaku? Mereka sudah lari jauh didepan sedangkan diri ini masih pada tempatnya". Memang tanpa harapan hidup terasa hampa sedangkan kesabaran dan bersyukur merupakan salah satu kunci dalam kehidupan. Bukankah hanya Maha penciptalah yang bisa membantumu. Jadi apakah semua ini normal? Apakah hanya diriku saja yang merasakannya? Lalu bagaimana aku harus bertahan?