Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
Sepenggal

Sepenggal

  • WpView
    Membaca 26
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Mar 7, 2021
WpInfo
Fiksi
Romansa
Teh, Kota, Kamu Sore ini, aku melewati senja dengan secangkir teh hangat. Ku hirup perlahan sambil menikmati aromanya. Cangkir teh ditangan ku mengingatkanku pada kota mu. Secangkir teh dengan rasa yg lebih manis dari teh ku saat ini. Bukan, bukan hanya karena ada kamu di sana, tapi karena begitulah cara orang menikmatinya di kota mu. Ah, membayangkannya saja membuatku rindu. Bukan teh nya, tapi kota nya, juga kamu. 09.09.20 #hrwnd ______ Bukan tentang cerita yang akan berlanjut di setiap bab, berisi tentang penggalan rasa, cerita, atau prosa yang bisa saja terjadi dalam keseharian pembaca.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#130
cita
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • ROMANCE FROM HIGH SCHOOL
  • Jenis Rasa
  • Lelah Patah Hati (END)
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • The Grey Of SAKARUNA
  • Senja Jingga
  • Bandung dan Semua Yang Tertinggal [TAMAT]
  • Kumpulan Novelet Romansa (one shoot)
  • Dear... Nadin From *Anonymously*[Selesai√]

"Semua tak seperti yang diharapkan. Cinta hanya ada dalam mimpi, cinta hanya ada dalam hati, cinta hanya terungkap dari tulisan ini." "Kali ini pagi menceritakan tentang dingin malam, tentang kopi yang begadang, dan doa-doa sisa air mata." "Ternyata aku masih terlalu mentah untuk mekar bersamamu, aku masih terlalu kanak-kanak untuk mengiringi langkahmu. Untuk lembar-lembar berikutnya, tulislah kisah barumu." "Hari kemarin atau esok sama saja dengan hari ini. Duka dan suka menjadi seirama lagu, matahari di luar, matahari dalam hati menyatu dalam kepiluan sukmaku." "Ada yang meleleh di ujung kedua mataku, begitu goretan-goretan pena itu selesai kubaca. Ternyata bendungan air mataku tidak terlalu kuat sehingga jebol lagi, meski baru sedikit."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan