Sang Penggoda

Sang Penggoda

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 13, 2021
Kehancuran ini sama sekali tidak pernah Alaric harapkan. Rasa bosan membuat nya kehilangan semua nya, khilaf ku terlalu besar untuk dimaafkan. Tapi aku ingin egois dan memperoleh pengampunan dari sang dewi malam. Walaupun itu sangat tidak memungkinkan. Setiap hari aku hanya bisa meraba hati yang kian kosong, kemudian menangisi kebodohan. Aku kehilangan keluarga karena nafsu. Tergoda dengan wanita yang lebih muda. Nafsu itu terus bergejolak karena setiap hari berhadapan dengan dia sang dewi j*lang. Yang selalu mempertontonkan lekukan dan kegenitan yang dibalut apik dengan sebuah kepolosan. Aku tergoda. Aku selalu merasa haus setiap melihatnya melintas dengan lenggokkan. Aku pun tidak tahu kenapa dengan mudahnya naluri liar ku dia permainkan hanya dengan sebuah kedipan. Pikiran kian gila setiap hari nya, otak selalu memutar cara bagaimana agar bisa menyesap sari nya, bagaimana rasa sari itu. Ah Pasti lah manis dan legit. Yang dirumah mulai terasa hambar, tidak ada tantangan dan mudah kelelahan. Hari itu aku dibuat panas dingin ketika dia menawarkan mampir ke apartemen, setelah aku mengantar nya pulang. Dan benar saja hari itu aku bisa maju satu langkah, menyatukan benang saliva yang selama ini hanya impian. Dan sesuai perkiraan, aku kian ketagihan. Benang saliva selalu kami rajut setiap hari nya, sehingga bisa menghasilkan sebuah kain dosa yang panjang dan lebar. Aku mulai abai dengan tanggung jawab. Mulai hilang kendali. Mulai kepanasan kalau harus jauh dari Arina sang dewi j*lang. Dan Aku lah Alaric Permana yang tergoda dengan lembah nista.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta
  • My Baby Without Father (Di Pindahkan Ke Dreame/Innovel)
  • Jodoh Kedua (END)
  • Dinamika Ditengah Arus Waktu
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda
  • Perjalanan Cintaku...
  • Mahligai Sunyi
  • SENANDIKA (Zeedel)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||

بسم الله الر حمن الرحيم.. ini cerita pertamaku, jadi mohon maaf bila ada kata dan penulisan yg tidak tepat, masih dalam tahap belajar silahkan kasih saran dan kritik ya. saya bukan penulis hanya punya hobi,, bagi saya membuat tulisan dalam bentuk cerita lalu cerita saya dinikmati banyak pembaca adalah kesenangan tersendiri, saya selalu berharap tulisan saya mampu membuat pembaca hidup di dalamnya, karena bila pembaca larut dalam alur cerita yang saya buat ,merasakan bahagia, marah, sedih ,bahkan menangis adalah bentuk prestasi bagi saya . selamat membaca.... "aku tidak tahu jalan hidup akan begitu rumitnya, setelah kehilangan menerpaku semuanya terasa hancur. namun, aku percaya allah tidak akan membiarkanku seorang diri menghadapinya, selalu ada Fajar setelah gelap dan selalu ada tawa setelah kesedihan. aku perlu mengingatkan hatiku lgi,, " bahwa bahagia dan duka itu datangnya satu paket. kamu tidak akan merasakan bahagia sebelum tahu apa itu duka. dan jangan terlena akan rasa bahagia karna bisa jadi esok kau akan merasakan duka". Aku harus mengikhlaskan sekaligus mendukung perjodohan mereka. Iya,,dia yang salah satu nya adalah seseorang yang sangat aku cintai, nama laki-laki yang mungkin sudah terbentang luas di angkasa karna aku mendo'akan nya tak lekang oleh waktu, disetiap sholat fardhu dan sunnah roatibku. Meski namanya menjadi candu dalam do'aku. Namun, Allah punya rencana dan kehendak lain. oh Allah,, jika mencintai semudah membalikan telapak tangan. kenapa melupakan itu pilu dan melelahkan? jika Cinta itu mengikhlaskan. mengapa masih begitu sakit ? ya Rabb, jaga hatiku untuk ia yang sedang menunggu kehadiranku dan yg mampu menjaganya. pertemukan kami disaat kami siap untuk saling berbagi. yakinkan hatiku untuk siap jatuh Cinta lagi bukan untuk patah lagi ". ~ Air Mata Cinta ~ #pesantren

More details
WpActionLinkContent Guidelines