Pijit
  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 7, 2021
Ada yang mengatakan bahwa surga berada di telapak kaki Ibu. Lalu, bagaimana dengan mimpi? Dimanakah mimpi berada? Satu kata penuh kejutan bagi setiap orang yang mengejarnya. Ada yang sekecil biji selasih, ada pula yang sebesar meteorit. Tidak ada yang berani memastikan, tetapi kita percaya bahwa manusia setidaknya memiliki satu mimpi yang ingin dikerjarnya. Ada yang memilikinya lalu berani mengejarnya, ada yang sudah cukup bahagia walau hanya mendapatkan potongannya, ada yang memilikinya namun berhenti pada angan-angan, dan ada yang memilikinya namun berhenti karena keadaan. Jadi, dimanakah mimpi berada? Untuk beberapa orang, mimpi seperti air yang mengalir tenang di pundak Ibu, dan menguap begitu rupa sewaktu percakapan terjadi diantaranya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Geschiedenis : The Line of Historia
  • Agape [FANTASI KERAJAAN]
  • Behind the Chill of the Night Wind (HIATUS)
  • MAHESWARI  (selesai)
  • Nana Iro No Niji (Seven Colors Rainbow)
  • SHADOW ( Selesai)
  • DREAM
  • Tunnel End Lights [TEL]

Aku pernah melangkah penuh percaya diri di kampus negeri, di mana mimpi-mimpi sederhana terasa seolah sudah ada di ujung tangan. Aku aktif, dikenal, dan percaya bahwa masa depan yang cerah hanyalah soal waktu. Tapi ketika ibu pergi, semuanya runtuh tanpa ampun. Sunyi menyelimuti rumah yang dulu penuh tawa, tabungan menguap seperti angin, dan Jati diri terhempas jauh melayang lalu sirna bersama rasa kecewa, Ayah terdiam dalam kebingungan, kehilangan arah yang dulu ia genggam erat. Aku yang muda, yang seharusnya berlari mengejar mimpi, terjerat oleh tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul sendiri. Aku berhenti kuliah, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena harus memilih, melanjutkan mimpi yang kian menjauh, atau bertahan untuk keluarga yang runtuh. Hari-hariku berlalu begitu saja, menampung lelah yang tak selalu terlihat, dan pertanyaan tanpa jawaban yang terus menghantui kenapa dunia ini tak selalu berpihak pada mereka yang berjuang paling keras? Aku merangkai kekuatan dari serpihan kehilangan, menenun harapan dari kegelapan yang pekat. Aku berdiri, walau rapuh, karena menyerah bukanlah bagian dari ceritaku. Perjalanan ini belum selesai, dan aku tahu, langkahku harus terus berlanjut, meski dunia kadang membelakangi dan meninggalkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines