JANUARI

JANUARI

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 10, 2021
Hari itu, Febi yang tengah berada di atas tempat tidur sambil meluruskan kaki di atas ranjang seolah ikut tertarik ke dalam peristiwa enam belas tahun silam. Kisah yang awalnya milik tiga orang sahabat itu rupanya menarik empat, lima, enam, entahlah. Sepertinya sudah menarik korban lebih banyak dari itu. Dan mungkin akan bertambah satu orang lagi, dirinya sendiri. "Gue gak nyangka akan ada kisah seperti ini." Febi kembali mengelap ingus dengan lengan bajunya. Sudah dua jam ia membaca tanpa henti dan sudah tujuh kali rasanya ia menangis hingga sesak. Wajar bila saja kini ia terserang flu dadakan. "Ayo kita baca buku selanjutnya. Kita lihat siapa sebenarnya orang yang paling jahat di kisah ini." Febi menghela nafas sesak kala menutup buku pertama dari diary yang ia temukan satu bulan yang lalu itu. Tangannya lalu menggamit buku ke-dua dari total tiga buku yang ada. Dengan gemetar, Febi perlahan membuka halaman pertamanya. Isi paragraf pertamanya seketika membuatnya tertegun. *** Bukanlah cinta, ini hanyalah sebuah ego belaka. Dendam itu rupanya turun kepadaku. Sakit akan perih yang tak kuterima seolah bisa aku rasa. Biarlah dia sudah tak ada, tapi ajang balas dendam akan luka lama itu akan terus berlanjut. Aku akan memastikan yang bersalah harus di hukum. Rasa sakit yang ia derita hingga lupa akan caranya tertawa harus dibalas dengan hal serupa. Januari, kamu ... tak akan pernah berhak untuk bahagia. ---
All Rights Reserved
#21
lukalama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Maina & Maxim
  • STUCK
  • NAYVAN [END]
  • Puisi Kegagalan
  • EXCHANGE
  • Secret Admirer (New Version)
  • My Enemy Ayna

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines