Teacher Or My Husband

Teacher Or My Husband

  • WpView
    LETTURE 10,482
  • WpVote
    Voti 510
  • WpPart
    Parti 23
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione sab, feb 4, 2023
WpInfo
Narrativa
Storie d'Amore
'Cerita pertamaku' semoga suka.. Mwehe Eitss follow dulu sebelum baca✋ Kisah tentang seorang siswi yang dijodohkan dengan gurunya sendiri yang terkenal dingin, 'plus' pelit ngomong "Tapi Caca ga mau dijodohin ayah,, bunda please.." Ucap Caca dengan mata yang sudah berkaca - kaca "Caa insyaallah ini jalan yang baik buat kamu.. Bunda yakin calon suami kamu itu orang baik nak" ucap Safika dengan lembut °° "Gitu kek pak dari tadi, kasian tuh debay diperut bapak pasti dia udah kelaperan banget" ucap Caca dengan kekehannya. Reyn menatap Caca tajam. "Kamu pikir saya hamil? Kalo gitu berarti kamu yang bikin saya hamil" jawab Reyn "Lah ga kebalik tuh pak?" Caca tersentak kaget mendengar ucapannya sendiri. "Gue salah ngomong deh kayaknya, aduh nih mulut ya bener bener deh" batin Caca merutuki kebodohannya. "Oh jadi kamu mau saya hamilin?" tanya Reyn menatap Caca. °° ° ° ° °°Happy reading°° Follow Ig : xytiaa__
Tutti i diritti riservati
#139
guru
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • 1, Bunga di Taman Hati
  • TITIPAN HATI (END)
  • MAS SUAMI (END)
  • Kebelet Nikah
  • Unplanned marriage
  • SYAKARA
  • Marry The Enemy
  • Love With Teacher
  • Klandestin- (Alexandra!)
  • Origami Alfiolita (End)

"Fabian..." Mami menatapku. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?" "Kalau semua ikhlas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku. "Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir." Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. "Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa." "Gimana bisa?" Aku masih memasang wajah bodoh itu. "Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya." Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. "Ini foto calonnya." "Aku setuju, Mi." Aku tetap menatap wajah Mami. "Ian nggak lihat dulu anaknya?" "Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua." "Ian lihat dulu deh..." Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? "Mami...??" Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. "Nggak salah nih, Mi...?" "Kenapa? Ian berubah pikiran?" "Masih ABG beginiii...!!!" "Oh... itu foto dia masih kelas X." "Sekarang?" "Balik foto itu," perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. "Mami...?" Kupasang wajah bodohku sekali lagi. "Ini beneran?" "Ya benar lah." "Ini mahasiswa aku, Mi.... Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku." "Sepertinya begitu," jawab Mami maklum. "Ada masalah dengan itu?" Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. "Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?" "Nah, pertanyaan bagus." Mami menepuk bahuku. "Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah." Haaahhh??? ***

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti