Nenek Penjual Sayur

Nenek Penjual Sayur

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 13, 2021
Seorang nenek tua penjual sayur, bernama nenek Suntiah. Nenek Suntiah tinggal di kampung Kadongdong dengan anak laki-lakinya. Ia harus menghidupi diri dan anak semata wayangnya. Meskipun umur yang sudah tak muda lagi, nenek Suntiah memilih berjualan sayur dengan berjalan kaki dari kampung menuju perumahan. Nenek itu tidak pernah menyerah begitu saja, di usia senja dia masih tetap berikhtiar tanpa mengharap belas kasih orang lain, tidak seperti banyak peminta minta yang sering datang ke lingkungan rumahku meminta sedekah, padahal mereka masih muda untuk bekerja keras. Penasaran bagaimana kelanjutan cerita nenek penjual sayur? Yuk, saksikan ceritanya> #tugasbindo #tugasmembuatceritainspirasi
All Rights Reserved
#86
ceritainspirasi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [END] Saya Bertani dan Memasak Makanan Lezat di Zaman Kuno
  • Kepingan Kisah dalam Sejarah
  • Gadis Kecil Beruntung Dari Peternakan yang Indah
  • ✔ Kehidupan Sehari-Hari Bertani Dan Membesarkan Anak Di Pegunungan Zaman Kuno
  • dijodohin | yeonjun
  • Setelah Memakai Buku, Saya Membantu Anak-Anak Menemukan Ayah Mereka (end)

Blogger makanan Jiang Nan, yang terpesona oleh seluruh Internet, mendapat paket hadiah perjalanan waktu sebagai imbalan atas kerja kerasnya. Ketika saya membuka mata, saya melihat pemandangan perpisahan keluarga, rumah leluhur yang sewaktu-waktu akan runtuh, saudara ipar yang tampak pucat, diri saya yang lemah, dan ibu mertua yang sakit parah. Jiang Nan: Beberapa orang tidak jauh dari kematian ketika mereka masih hidup... Semua orang di desa menyesalkan bahwa rumah besar keluarga Shen tidak baik. Jika keluarga terpecah seperti ini, mereka mungkin tidak akan bertahan di musim dingin. Namun Jiang Nan tidak percaya pada kejahatan. Jika dia bergantung pada gunung untuk makan dan tinggal dekat dengan air, dia tidak akan pernah mati kelaparan. Turun ke sungai, menangkap udang dan ikan, pergi ke pegunungan, memetik jamur dan menggali ginseng, membuka lahan kosong, dan menanam melon dan kacang-kacangan. Warung makan antara lain: Liangpi, kepiting goreng, kaki babi rebus, tahu, bakpao, hot pot, sate goreng, ayam Bobo. Gelombang pengunjung datang, dan kios-kios pinggir jalan berubah menjadi toko makanan butik. Lambat laun uang dalam keluarga semakin banyak, rumah bobrok berubah menjadi rumah bata, dan pakaian linen berubah menjadi pakaian brokat. Warung pinggir jalan disulap menjadi toko makanan enak, rumah bobrok disulap menjadi rumah bata, pakaian linen disulap menjadi brokat, dan yang terpenting, kantong uang menjadi menggembung! Kerabat yang berjuang melawan angin musim gugur, dan kakek-nenek yang hidup tanpa hasil bisa pulang dengan baik. Bisnisnya menjadi lebih baik dan semakin besar. Para bangsawan menghabiskan banyak uang untuk membeli meja hidangan pribadi khusus. (Sinopsis lanjut di dalam ➡️➡️)

More details
WpActionLinkContent Guidelines