CRITICZEN

CRITICZEN

  • WpView
    Reads 154
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 14, 2021
Bagi Shin Chora media social adalah obsesi dan sahabat terbaiknya. Model papan atas itu sampai tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjerat bersama jejaring social mengerikan yang ia ciptakan sendiri. Lain halnya dengan Song Yoongi, mimpi buruknya seolah menjadi kenyataan hanya dalam satu malam. Ia tahu, Shin Chora tidak bisa mengenyahkan ujaran kebencian serta tulisan-tulisan sial ini dalam otaknya barang sedikitpun. Hingga semuanya terjadi begitu saja. Mereka dan kedua tangan yang setia menemani, sudah menjadikan Shin Chora boneka penilaian yang berkakhir harus dibuang suatu saat nanti. Pun selayaknya awan putih yang bisa menyamar menjadi kabut hitam. Mereka dilengkapi mulut dan tangan-tangan yang yang tidak pernah berhenti mengetikkan merupakan sebuah boomerang penghakiman yang mematikan secara virtual. Agaknya kisah ini mencerminkan tentang sebuah bentuk ketamakan dunia yang saling menampung dalam satu wadah. Berakhir harus mengintimdasi seseorang untuk dijadikan pelampiasan.
All Rights Reserved
#60
menulisbarenghacin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Hanin : The Beauty Inside
  • My S-Class Hunters X Reader
  • LOVE SOMEDAY [ Terbit ]
  • Beg to Me
  • Arunika
  • RUMUS FISIKA [tahap revisi]
  • Depression [HunBaekChan]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines