She spent her life solving problems. He became the only one she never could.
***
Dr. Jenggala Arunika Prabaswari selalu percaya bahwa hidup yang rapi adalah hidup yang bisa dikendalikan. Sebagai dosen Statistika di Universitas Syahdan Jaya, ia terbiasa membaca pola, menguji asumsi, dan menolak kesimpulan yang tidak berdasar. Di kelasnya, angka harus jujur, metode harus tepat, dan mahasiswa tidak boleh sembarangan merasa pintar hanya karena memakai istilah yang terdengar mahal.
Lalu Taraksa Naga Wiryawan datang sebagai pengecualian yang terlalu sulit diabaikan.
Mahasiswa semester akhir itu terkenal tengil, populer, berantakan secukupnya, dan terlalu terang-terangan menyukai dosennya sendiri. Namun di balik semua celetukan dan sikap santainya, Taraksa punya cara berpikir yang tajam, rasa hormat yang tidak selalu berisik, serta keteguhan yang membuat Jenggala berkali-kali gagal menganggapnya sekadar gangguan.
Ketika Taraksa resmi menjadi mahasiswa bimbingannya, Jenggala tahu satu hal: batas harus dijaga lebih ketat dari sebelumnya. Semua pertemuan harus akademik. Semua komunikasi harus formal. Semua perasaan harus dianggap tidak relevan.
Namun, tidak semua hal dalam hidup bisa diselesaikan dengan rumusan masalah, batasan penelitian, atau tabel revisi.
Karena semakin Jenggala berusaha menjaga jarak, semakin Taraksa belajar untuk tidak melanggarnya. Dan justru di sanalah masalahnya dimulai: Taraksa tidak lagi mendekat dengan cara yang mudah ditegur, tetapi dengan kesabaran yang membuat Jenggala sadar bahwa ada beberapa variabel dalam hidupnya yang tidak pernah berhasil ia kendalikan.
All Rights Reserved