I'm (not) Bringer Of Death

I'm (not) Bringer Of Death

  • WpView
    Reads 1,414
  • WpVote
    Votes 294
  • WpPart
    Parts 46
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 19, 2022
Pernah berada dihubungan pelik? Pernah memperjuangkan sesuatu tanpa ada imbal balik? Pernah mengalami frustasi dan ingin lari? Kalau iya, oke kita sama. Ditumpukan bab ini akan menceritakan bagaimana peliknya kehidupan gue yang..entah lah, rasanya siklus tawa dan duka benar-benar tidak mau lepas. Tapi gue juga bersyukur karena ketika gue mau jatuh sejatuh-jatuhnya, akan selalu ada orang yang percaya dan dukung gue. Lo pun juga harus sama, meski tidak pernah tahu kemana arah yang bakal lo tuju, Harus tetap bergerak. Yah.. Meskipun hanya berdasarkan alasan 'menunggu waktu buat pergi'. -Darel Ardiaz Rafardhan-
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Surrogate Wife [END]
  • He's My Husband [ REPUBLISH ]
  • ALFAREZI [On Going]
  • Till I Meet You
  • Imamku Badboy (SUDAH TERBIT) ✔
  • Setia Di Hati (Selesai)
  • Carla
  • Yang Sudah Tertakar tidak akan Tertukar

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines