Respirator [Selesai]

Respirator [Selesai]

  • WpView
    Reads 20,144
  • WpVote
    Votes 1,486
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadComplete Wed, Sep 1, 2021
Proses Pengeditan [B R O T H E R S H I P] Gosipnya menyebar, secepat angin yang membawa dedaunan berguguran. Hampir satu sekolahan sudah mengetahui. Bahkan itu belum diberi keterangan dari pihak yang bersangkutan. Mereka langsung percaya begitu saja. Sagara sudah tahu semua. Soal 'berita' dirinya yang akan dikeluarkan dari sekolah. Itulah alasan mengapa sekarang dia berjalan sendirian, tanpa sang adik. Tadi malam setelah kabar baik dirinya mendapat pekerjaan, mereka bertengkar hebat. Sagara yang tiba-tiba mengeluarkan kalimat tajam. Bahkan dia sendiri mencoba berpura-pura tidak tahu kalau sang adik menahan sakit. Saat itu pikirannya hanya satu, dia memang seharusnya tidak ada, tidak lahir dan mempunyai hubungan dengan Devano. Kalau akhir ceritanya hanya dia yang menanggung sakit ini sendirian. "Bang Gara, jangan nyesel punya adik kayak Devano." Tidak. Sekalipun dirinya tidak dianggap dan diacuhkan, Devano masih tetap adiknya. Dan dirinya, Sagara, tidak akan menyesal terlahir menjadi Kakak Devano.
All Rights Reserved
#172
dingchengxin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • Aku Bukan Dia ( kita Berbeda )
  • About You And Me
  • Batara dalam hening Jogja
  • 𝐃𝐔𝐀 𝐖𝐀𝐉𝐀𝐇 𝐒𝐀𝐓𝐔 𝐍𝐘𝐀𝐖𝐀
  • HanHan's Diary [END]
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • Cakra's Last Embrace. | End |
  • Kara's Journey; Will Walk Again (End) ✓

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines