Nadia & Valiant

Nadia & Valiant

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 15, 2021
Kegagalanku dalam memulai mimpi bersamamu berujung trauma yang hingga kini masih kupikirkan menjelang tidur, menjelma dalam insomnia ditemani malam yang tersedu-sedu. Aku kalah. Aku mengaku kalah di dalam permainan pertaruhan rasa. Pertaruhan rasa yang kuawali sendiri tanpa acuh kepada mula yang tak baik yang tentu saja tak bisa membawaku kepada akhir yang kuharapkan. Yang bisa aku lakukan waktu itu hanyalah mengulur waktu untuk berbahagia bersamamu, setidaknya sedikit lebih lama lagi walaupun akhirnya kita -atau hanya aku saja- tidak bahagia. Sesalku masih ada sampai sekarang, asal kamu tahu. Tapi jika tak bertemu denganmu mungkin aku akan lebih dari pada arti sesal yang sekarang, karena pernah melaju bersamamu melawan angin malam yang menjelang subuh sambil bergandengan tangan adalah salah-satu bagian terindah dalam masa 23 tahunku yang mungkin akan terkenang seumur hidup walaupun aku sendiri berdoa semoga bisa tak ber-pilu ria saat mengenang kita yang pernah. Maka dari itu sebelum habis masa sedihku memikirkanmu, aku menulis cerita ini untuk kita yang pernah bertemu secara singkat dan kuharap saat membaca ini di hari yang lain, tak ada air mata rindu yang mengalir.
All Rights Reserved
#9
pupus
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Remember Me As A Time of Day✅
  • Regrets of Love
  • Di Antara Kita (END)
  • Cinta tak keliru (END)
  • Sekali Lagi (End)
  • CINTA UNTUK SENJA
  • When Love is Breaking
  • TAK BERSAMBUT
  • SELEPAS KAU PERGI (END)

Tidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hidup bahagia dalam bahtera rumah tangga. Dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Bahkan semua itu telah kita susun sedemikian apik dan terlaksana sesuai harapan. Namun ternyata kenyataan menamparku dengan kepergianmu. Kehidupan kita yang aku damba-dambakan sekarang hanya menjadi sebatas imajinasi. Sejak kepergianmu tak ada satu haripun yang aku lewati tanpa memikirkanmu Berulang kali ku paksa memoriku untuk memutar deretan hari yang kita lewati bersama kedua buah hati kita sebelum kepergianmu itu, berharap aku bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang menghantuiku. Namun tak ada satupun dari rentetan kenangan itu yang menjawab kegelisahanku. Sampai akhirnya waktu, benar membuatku terbiasa. Mencoba menghapus semuanya meski seringkali dadaku sesak karena tangis yang tak bisa kulepas. Dan kini sudah dua tahun kisah kita berakhir tanpa kata pisah Dan takdir seolah mempermainkanku dengan mempertemukan kita kembali secara tidak sengaja Kau masih sama, tidak ada yang berubah Kau masih seperti sosok yang dulu membuatku jatuh hati Tapi yang membuatku terpukul adalah Tuhan merenggut ingatanmu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines