Pramudya Nawasena, semoga namaku mengekal dalam jiwamu, terkubur selamanya dalam perasaan sunyi dirimu. Kau yang tak berniat menyentuh cinta sekalipun, kau yang selalu berpikir bahwa hidupmu masih terlalu "nanti" untuk hal itu. Maka, biarkan aku menyerahkanmu pada cinta. Cara apa yang akan kau lakukan, sebijak apa dirimu akan memilih. Tuhan mengirim semerbak aroma Melati Mayasari yang selalu buram tentang apa yang ia pandang. Bisa kau membuatnya mengingatmu dengan jelas? Bisa kau buat rajut sweater warna birumu itu abadi dalam benaknya? Maka, sejauh mana kau menempuh perjalanan bersama sweater milikmu menjelajah dunia yang buram Puisi yang selalu kau tulis, sajak yang selalu kau lantunkan dengan alunan musik itu, apakah bisa membuat gadis dengan matanya yang Buram itu tersenyum? Mampu kah sajakmu menyelaminya? Dalam hidup Pramudya yang datar, kali ini ia diberi izin olen Tuhan untuk menawar hati seseorang.
More details